Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Hari Pendidikan Nasional

KPAI Soroti Kasus Kekerasan Pendidikan yang Masih Tinggi

Memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti masih banyaknya kasus kekerasan

KPAI Soroti Kasus Kekerasan Pendidikan yang Masih Tinggi
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Retno Listyarti. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti masih banyaknya kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan.

Kekerasannya pun beragam, mulai dari kekerasan fisik, psikis hingga seksual. KPAI menilai penting menyoroti hal ini lantaran masyarakat pun mempertanyakan ada apa dengan pendidikan kita.

Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengatakan kekerasan di satuan pendidikan cukup tinggi, baik yang dilakukan guru pada siswa, siswa terhadap guru, maupun siswa terhadap siswa lainnya.

Ia merujuk kepada data dari Ikhtisar Eksekutif Startegi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak 2016-2020 oleh Kemen-PPPA

"Adapun datanya adalah sebagai berikut, 84% Siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah; 45% siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan; 40% siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya," ujar Retno, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (2/5/2018).

"Kemudian 75% siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah, 22% siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakanpelaku kekerasan; dan 50% anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolah," imbuhnya.

Kemudian, dari data KPAI dalam tri semester pertama tahun 2018, Retno mengungkap pengaduan di KPAI juga didominasi oleh kekerasan fisik dan anak korban kebijakan (72%). Yang kemudian diikuti dengan kekerasan psikis (9%), kekerasan financial atau pemalakan/pemerasan (4%) dan kekerasan seksual (2%).

Selain itu, kasus kekerasan seksual oknum guru terhadap peserta didik yang viral di media, meski tidak dilaporkan langsung ke KPAI, tetapi KPAI tetap melakukan pengawasan langsung mencapai 13% kasus.

Umumnya, kata Retno, kasus kekerasan seksual lebih banyak dilaporkan ke kepolisian. Kalaupun dilaporkan ke KPAI, biasanya ia melihat KPAI akan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Pendidikan agar oknum guru pelaku di nonaktifkan dari tugasnya mengajar demi melindungi anak-anak lain di sekolah tersebut.

Halaman
12
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas