Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Pilpres 2019

JK Dianggap Lawan Tanding Kuat Bagi Jokowi di Pilpres 2019

Walaupun JK berpeluang menjadi penantang kuat bagi Jokowi, namun, kata dia, pria asal Sulawesi Selatan itu harus didukung partai politik.

JK Dianggap Lawan Tanding Kuat Bagi Jokowi di Pilpres 2019
dok.Kemenpar
Presiden Joko Widodo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Kepresidenan, Jakarta 7 Desember 2016. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekitar lima orang berpotensi maju sebagai calon presiden dan bersaing menghadapi presiden petahana Joko Widodo di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Lima orang itu, yaitu Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mantan Panglima TNI, Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo, tokoh islam Rizieq Shihab, dan wakil presiden Jusuf Kalla.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris, mengatakan Jusuf Kalla dapat menjadi pesaing yang sepadan bagi Jokowi.

Menurut dia, pria berlatar belakang pengusaha itu masih dapat maju sebagai calon presiden. Hanya sebagai calon wakil presiden sudah tertutup, karena sudah menjabat sebanyak dua kali masa jabatan.

"Pak JK bisa muncul sebagai lawan tanding menentukan bagi Pak Jokowi. Masih punya peluang menjadi capres yang tertutup cawapres," kata Syamsuddin dalam sesi diskusi PARA Syndicate bertema "Presidential Race: Siapa Lawan Tanding Jokowi?, Jumat (6/7/2018).

Baca: Analisis SMRC Terkait Peluang Jusuf Kalla Jika Maju Capres 2019

Walaupun JK berpeluang menjadi penantang kuat bagi Jokowi, namun, kata dia, pria asal Sulawesi Selatan itu harus didukung partai politik.

Dukungan dari parpol ataupun gabungan parpol merupakan syarat mendaftarkan diri sebagai pasangan calon presiden-wakil presiden yang diatur Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu.

"Bagi semua nama basis politik atau partai politik pengusung, ini soal negosiasi. Walaupun JK memiliki peluang menjadi penantang kuat tidak bisa maju tanpa parpol," kata dia.

Belakangan, JK mulai digadang-gadang akan diduetkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono. Namun, dia melihat, duet JK-AHY tidak cukup hanya diusung oleh parpol Demokrat.

Dia menjelaskan, harus ada dukungan dari parpol lainnya untuk memenuhi syarat ambang batas minimal pencalonan presiden-wakil presiden sebesar 20 persen.

Halaman
12
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas