Tribun

Pilpres 2019

Ruhut Sebut Pernyataan Prabowo tentang 99 Persen Rakyat Miskin, Tidak Masuk Akal

"Hutang sekarang ini harus dilihat peninggalan sebelumnya. Ia memang Pak SBY, tapi jangan juga salahkan dia."

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Choirul Arifin
Ruhut Sebut Pernyataan Prabowo tentang 99 Persen Rakyat Miskin, Tidak Masuk Akal
TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ruhut Sitompul 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ruhut Sitompul menanggapi cuitan Calon Presiden Prabowo Subianto tentang angka kemiskinan di Indonesia.

Prabowo mengatakan, sekitar 99 persen rakyat Indonesia hidup dalam kategori pas-pasan. Ruhut menilai pernyataan itu tidak masuk akal.

"Enggak masuk di akal lah. Kalau 99 persen masyarakat Indonesia miskin. Berarti 1 persen dia yang nikmatin," ujar Ruhut di acara Obrolan Barnus (Barisan Nusantara), relawan Jokowi Maruf pimpinan Nurdin Tampubolon, Rabu (5/12/2018).

Ruhut mengatakan, isu hutang negara kerap diutarakan kubu sebelah untuk menggaet suara.

"Hutang sekarang ini harus dilihat peninggalan sebelumnya. Ia memang Pak SBY, tapi jangan juga salahkan dia. Kita akan alokasikan hutang untuk kepentingan rakyat," ujarnya.

Pengamat ekonomi INDEF Nailul Huda mengatakan, kebijakan yang diambil pemerintah untuk menepis isu tersebut adalah dengan program yang menyentuh masyarakat.

"Kebijakan sekarang, salah satunya mengenai penggunaan dana desa, bisa dialokasikan ke sektor padat karya, yang menyerap tenaga kerja," jelas Huda.

Baca: Per September Total Utang BUMN Rp 5.271 Triliun, Total Aset Rp 7.718 Triliun

Meski program Badan Usaha Milik Desa BUMDes belum bisa menghasilkan kesejahteraan, Huda menilai minimal masyarakat bisa melewati gap kemiskinan.

"Ketika ada kebijakan itu, banyak uang BUMdes yang disalurkan. Dampaknya masyarakat bisa melewati ambang batas miskin," imbuhnya.

Ketua Umum Barisan Nusantara Nurdin Tampubolon mengatakan, pelemahan rupiah saat ini terjadi karena kondisi perekonomian global yang belum membaik. Pihaknya juga menyoroti suku bunga yang tinggi. Saat ini suku bunga acuan BI mencapai 6 persen.

"Kami berharap suku bunga tidak terlalu tinggi. Supaya industri juga semakin mempunyai daya saing," kata dia.

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas