Dukungan Erwin Aksa untuk Prabowo-Sandi Tak Akan Berikan Pengaruh Elektabilitas
Ujang Komarudin menilai dukungan Erwin Aksa secara politik, tidak akan memberi pengaruh signifikan bagi elektabilitas Prabowo-Sandi.
Penulis: Wahyu Aji
Editor: Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Politikus Partai Golkar Erwin Aksa menyatakan mendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.
Erwin mengatakan, langkah yang diambil adalah keputusan pribadinya.
Tekait hal tersebut, pengamat politik Ujang Komarudin menilai dukungan Erwin Aksa secara politik, tidak akan memberi pengaruh signifikan bagi elektabilitas Prabowo-Sandi.
Dirinya menyebut langkah Erwin serupa dengan sejumlah politikus Partai Golkar saat Pilpres 2014.
Kala itu, beberapa politisi Golkar seperti Agus Gumiwang Kartasasmita dan Nusron Wahid memilih mendukung Jokowi-Kalla, padahal Golkar sendiri mendukung Prabowo-Hatta Rajasa.
"Sebenarnya tidak terlalu berpengaruh karena Golkar itu sudah biasa. Dulu juga begini, kan," ujar Ujang saat dikonformasi, Rabu (20/3/2019).
Ujang mengatakan gaya politik Golkar di mana kadernya berbeda pilihan dalam pemilu itu sudah ada sejak dulu.
Menurutnya banyak politikus senior Golkar yang menjadi kepala daerah dan menjadi pimpinan cabang menempatkan keluarganya di partai lain.
"Jadi begitu satu kalah, yang satu menang. Yang satu kalah, yang satu menang. Dan memang itu selalu aman dan bagian dari strategi yang sah tidak melanggar undang-undang," ujarnya.
Baca: PDIP Lihat Survei Litbang Kompas Sebagai Peluang Sekaligus Tantangan
Diberitakan sebelumnya, pilihan Erwin Aksa mendapat perhatian seluruh pihak karena keputusannya tidak sejalan dengan Partai Golkar yang mendukung paslon 01, Jokowi - KH Maruf Amin.
"Terkait pilihan saya untuk calon presiden dan calon wakil presiden 2019-2024, perlu saya sampaikan bahwa memang betul saya mendukung pasangan Capres-Cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi. Pilihan saya ini saya sadari tidak sejalan dengan pilihan Partai Golkar di mana saya bernaung saat ini," ujarnya melalui siaran pers, Selasa (18/3/2019).
"Pilihan saya ini adalah pilihan pribadi dan dalam hal kampanye dan sosialisasi Capres-cawapres selama ini saya tidak pernah mengatasnamakan dan menggunakan atribut Partai Golkar," imbuhnya.
Menurutnya, dinamika politik dan perbedaan pilihan itu merupakan hal yang wajar dalam alam demokrasi.
Perbedaan harus disikapi secara bijak dan tidak perlu dipandang negatif.