Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pemilu 2019

Soal Kematian KPPS, Tim Peneliti UGM: Terjadi Natural, Bukan Diracun

Dari kasus meninggalnya mereka, tidak ditemukan indikasi kekerasan ataupun kematian tidak wajar lainnya.

Soal Kematian KPPS, Tim Peneliti UGM: Terjadi Natural, Bukan Diracun
Danang Triatmojo/Tribunnews.com
Riris Andono Ahmad 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dosen Fak Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, Riris Andono Ahmad mengatakan, seluruh kematian petugas KPPS terjadi secara natural.

Dari kasus meninggalnya mereka, tidak ditemukan indikasi kekerasan ataupun kematian tidak wajar lainnya.

"Seluruh kematian terjadi secara natural. Tidak ditemukan indikasi adanya kekerasan maupun kejadian tidak wajar," ungkap Riris dalam konferensi pers di KPU RI, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019).

Hal ini disimpulkan lewat kajian lintas disiplin atas meninggal dan sakitnya petugas KPPS selama Pemilu serentak 2019 yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM).

Fokus kajian ini masih dalam wilayah DIY Yogyakarta dengan mengidentifikasi faktor risiko serta memperhatikan sebaran kematian dan situasi sosial-politik lokal.

Kajian ini menggunakan metode campuran (mixed-methods) yakni kuantitatif dengan metode survei dan kualitatif lewat metode deskriptif.

Baca: Kuasa Hukum: MK Jangan Buat Keputusan Bertentangan dengan Nurani dan Pikiran Rakyat

Sebanyak 400 dari 11.781 TPS di Yogyakarta dijadikan sebagai sampel lewat teknik custom random sampling.

Dengan waktu kajian survei selama rentang tanggal 20 Mei hingga akhir pekan kemarin.

Data yang digali antara lain beban kerja, riwayat penyakit selama satu tahun, gangguan kesehatan dalam 6 bulan terakhir, kebiasaan olahraga, merokok, konsumsi suplemen dan kopi, persepsi adanya tekanan dan ancaman, serta kecemasan yang dialami selama bertugas dalam kegiatan Pemilu.

Tim peneliti UGM kemudian mengotopsi verbal 10 dari 12 kasus kematian di Yogyakarta.

Hasilnya disimpulkan, 80 persen meninggal karena riwayat penyakit kadiovaskular dan 90 persen kasus karena riwayat merokok.

Sementara itu, tim peneliti lainnya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Abdul Gaffar Karim juga menegaskan bahwa dari kesimpulan kajian tersebut, pihaknya tidak menemukan gejala simpangsiur seperti indikasi diracun atau gejala lain yang lebih ekstrim.

"Kami sama sekali tak menemukan indikasi misalnya diracun atau sebab lain yang lebih ekstrim," kata Abdul.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pemilu 2019

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas