Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

PDIP Akan Luncurkan Buku Sejarah Kedekatan Bung Karno dan Megawati dengan Islam

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengaku prihatin karena masih ada yang mau menjauhkan PDIP sebagai golongan nasional dengan golongan Islam.

PDIP Akan Luncurkan Buku Sejarah Kedekatan Bung Karno dan Megawati dengan Islam
Ist/Tribunnews.com
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat berdialog dengan ulama Betawi terkemuka KH Abdul Hayyie Na'im dan sejumlah ustad serta kiai di teras Masjid An-Nur, Cipete Utara, Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2019) malam. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengaku prihatin karena masih ada yang mau menjauhkan PDIP sebagai golongan nasional dengan golongan Islam.

Padahal jejak sejarah PDIP dan Islam sangat panjang dan berjalan baik selama ini.

"Untuk mencounter hal itu, PDIP merencanakan membukukan pidato dan pemikiran serta kebijakan Presiden Soekarno dan Presiden Megawati Soekarnopuri dalam bahasa Arab dan Inggris," ujar Hasto saat berdialog dengan ulama Betawi terkemuka KH Abdul Hayyie Na'im dan sejumlah ustad serta kiai di teras Masjid An-Nur, Cipete Utara, Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2019) malam.

Sementara Hasto didampingi sejumlah kader PDIP antara lain Zuhairi Misrawi, KH. Zainal Arifin Na'im, Gembong Warsono dan Yuke Yurike.

Dialog berlangsung secara santai lebih dari 2 jam.

Hasto menjelaskan, PDIP menyiapkan tim khusus untuk meluruskan sejarah dan anggapan bahwa PDIP jauh dari Islam dalam bentuk buku.

"Intinya, kami ingin meluruskan sejarah Bung Karno dan Islam. Termasuk sejarah Ibu Megawati dan Islam," tambah Hasto.

Dalam dialog, Hasto menegaskan Nahdlatul Ulama (NU) dan PDIP merupakan dua kekuatan besar yang memiliki sejarah panjang diharapkan selalu memiliki hubungan baik.

"Sebagai kekuatan Islam dan Nasionalis maka kuncinya silaturahmi sehingga bisa terbangun dan terjalin hubungan baik. Pada dasarnya warga Indonesia senang musyawarah," kata Hasto.

Hasto pun bercerita sejarah panjang PDIP dan NU sejak era Soekarno di masa perjuangan kemerdekaan hingga sejarah terkini saat PDIP di depan saat mengusulkan Hari Santri dan sebaliknya usul penetapan Pancasila 1 Juni dimana NU terdepan memperjuangkannya.

"PDIP diajarkan untuk tidak melupakan sejarah dan bukan bermaksud takabur. Sejarah Hari Santri diperjuangkan saat kampanya pilpres 2014. Saat itu Wasekjen PDIP Ahmad Basarah mengusulkan kepada Pak Jokowi sebagai kesadaran sejarah atas peran Resolusi Jihad yang menggetarkan tentara Sekutu," beber Hasto.

Diapun merasa terhormat bisa berdialog dan bertukar pikiran dengan kalangan Nahdliyin di DKI Jakarta. Menurutnya di desa-sesa warga Nahdliyin dan warga PDIP menyatu.

Hasto pun menceritakan kedatangan tokoh senior dari NU Mbah Moen ke kediaman Megawati beberapa waktu lalu sebelum melaksanakan ibadah haji. Dimana dalam kesempatan itu, keduanya membahas banyak hal.

Mengamini apa harapan Hasto, KH Abdul Hayyie Na'im pun mendoakan antara Islam dan PDIP selalu terjalin hubungan baik. Serta pemerintahan Jokowi- Kyai Maruf Amin ke depan akan memberi manfaat besar bagi Bangsa dan Negara.

"Semoga Pak Jokowi dan Kyai Maruf Amin bisa memimpin dengan baik dan mari kita saling memperkuat silaturahmi," kata Kyai Hayyie Na'im.

Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas