Jusuf Kalla: Perekonomian Kita Masih Mampu Bayar Utang
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut utang Indonesia masih terbilang aman. Diketahui Hingga Agustus 2019 utang RI mencapai Rp 4.680,19 triliun.
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Adi Suhendi

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut utang Indonesia masih terbilang aman.
Ia mengatakan, RI berutang untuk memenuhi kekurangan anggaran.
Diketahui Hingga Agustus 2019 utang RI mencapai Rp 4.680,19 triliun.
"Indonesia terpaksa berutang karena defisit untuk menutup belanja barang serta lain-lain," kata Jusuf Kalla dalam diskusi bersama 100 pengamat ekonomi, di hotel kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (17/10/2019).
Menurut Jusuf Kalla, rasio utang Indonesia masih terbilang aman.
Baca: Upah Buruh Naik di 2020, Pengusaha: Sesuai Perkiraan
Baca: BPJS Kesehatan Tunggak Rp 20 Miliar ke RSUD Ungaran, Setiap Ditagih Tak Ada Respons
Baca: Mahasiswa Unitas Tewas saat Pra Diksar Menwa, Ada Pukulan di Bagian Vital: Komandan Sujud Minta Maaf
Di mana rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB), masih berada di bawah batas 30 persen.
"Dibandingkan Malaysia 50 persen dari pada PDB, Turki 80 persen hampir 100 persen. Perekonomian kita masih mampu bayar utang, masih aman dilihat dari teori peminjaman," kata Jusuf Kalla.
Dari data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tercatat, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah 29,5 persen pada Juni 2019.
Naik 8,8 persen
Bank Indonesia ( BI) mencatatkan, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2019 sebesar 393,5 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 5.569 triliun (kurs Rp 14.153).
ULN tersebut terdiri dari ULN publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar 196,3 miliar dollar AS, serta ULN swasta (termasuk BUMN) sebesar 197,2 miliar dollar AS.
ULN Indonesia tumbuh 8,8 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,9 persen (yoy), terutama dipengaruhi oleh transaksi pembayaran neto ULN.
"Utang luar negeri tumbuh melambat dengan struktur yang sehat," sebut BI dalam keterangan pers tertulisnya, Selasa (15/10/2019).