Yusril Ihza Mahendra Ungkap yang Terjadi antara Garuda Group dan Sriwijaya Air, Utang Membengkak
Kisruh antara Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group disebabkan oleh permasalahan manajemen yang tidak sesuai.
Penulis:
Febia Rosada Fitrianum
Editor:
Ifa Nabila
TRIBUNNEWS.COM - Kisruh antara Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group disebabkan oleh permasalahan manajemen yang tidak sesuai.
Hal tersebut diungkapkan Kuasa Hukum Sriwijaya Air, Prof. Yusril Ihza Mahendra yang diwawancarai melalui telepon dalam video yang diunggah di kanal YouTube metrotvnews, Jumat (8/11/2019).
Yusril Ihza menjelaskan pihak Sriwijaya Air merasa kerja sama yang dilakukan sangat merugikan pihak Sriwijaya karena adanya konflik kepentingan di dalamnya.
Sehingga Sriwijaya Air selama sekira setahun di bawah manajemen Sriwijaya mengalami penurunan pelayanan hingga utang membengkak.
Menurut penuturan Yusril Ihza, perusahaan ditangani secara tidak efisien.
"Kerja sama manajemen yang selama ini berlangsung antara Garuda Group dengan Sriwijaya Air, tidak berjalan sebagaimana mestinya," terang Yusril Ihza.
"Pihak Sriwijaya menganggap kerja sama ini sangat merugikan pihaknya. Karena memang di sini terjadi semacam konflik kepentingan. Karena sama-sama bekerja di lahan bisnis yang sama."
"Sehingga selama manajemen dipegang oleh pihak Sriwijaya lebih kurang setahun, dari bulan november 2018 hingga sekarang ini sebenarnya manajemen Sriwijaya itu bukan tambah baik, pelayanan tambah buruk, utang membengkak, dan perusahaan ditangani beda-beda secara tidak efisien."
Hal tersebut membuat ketegangan antara pihak Sriwijaya Air maupun Garuda Indonesia Group.
Meski demikian, ketegangan tersebut sempat mereda pada satu bulan yang lalu.
Namun, ketika dilakukan upaya untuk memperpanjang perjanjian sementara, terjadi dead lock.
Dead lock adalah sebuah situasi yang proses di dalamnya tidak ada kemajuan sama sekali.
"Dan itu menimbulkan ketegangan. Walaupun pernah rujuk sebulan yang lalu," ungkap Yusril Ihza.
"Tapi ketika dilakukan upaya untuk perpanjangan perjanjian sementara itu terjadi semacam dead lock ya kemarin," tambahnya.
Sebelumnya, pihak Garuda Indonesia Group telah memberikan perintah kepada beberapa anak perusahaannya untuk melayani Sriwijaya Air jika membayar service di muka.
Baca tanpa iklan