Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ketua IKAGI Sebut Ada Kerajaan Tak Berbentuk dalam Garuda Indonesia

Ketua Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia, Zaenal Muttaqin mengungkapkan terdapat semacam kerajaan tidak berbentuk dalam Garuda Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Isnaya Helmi Rahma
zoom-in Ketua IKAGI Sebut Ada Kerajaan Tak Berbentuk dalam Garuda Indonesia
YouTube Indonesia Lawyers Club
Ketua Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia, Zaenal Muttaqin mengungkapkan terdapat semacam kerajaan tidak berbentuk dalam Garuda Indonesia. 

TRIBUNNEWS.COM - Ketua Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI), Zaenal Muttaqin mengungkapkan terdapat semacam kerajaan tidak berbentuk dalam Garuda Indonesia.

Pernyataan tersebut diungkapkan dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dilansir kanal YouTube Indonesia Lawyers Club, Rabu (11/12/2019).

"Bagaimana di perusahaan Garuda? Perusahaan publik dari dulu hingga sekarang ada semacam kekerajaan yang tidak berbentuk, yang mengendalikan organisasi perusahaan ini," ujar Zaenal.

Menurutnya, hal ini sudah ada sejak lama, namun kehadiran Ari Askhara dinilai semakin memperparah situasi di Garuda Indonesia.

Kebijakan-kebijakan Ari diniliai kontroversial dan mengarah kepada sikap diskriminasi karyawan.

Menurutnya, awak kabin selama ini tidak dianggap sebagai aset perusahaan.

Melainkan hanya sebagai alat produki perusahaan.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kami dikejar terus untuk mencapai produksi maksimal," ujar Zaenal.

Zaenal Muttaqin (Kiri) dan Ari Askhara (Kanan). Zaenal Muttaqin beberkan perilaku Ari Askhari selama menjabat sebagai Direktur Utama Garuda.
Zaenal Muttaqin (Kiri) dan Ari Askhara (Kanan). Zaenal Muttaqin beberkan perilaku Ari Askhari selama menjabat sebagai Direktur Utama Garuda. (YouTube tvOneNews / Kompas.com Ambaranie Nadia)

Disisi lain, diskriminasi dalam Garuda Indonesia terlihat dengan adanya perbedaan perlakuan antar bagian seperti darat, pilot, dan awak kabin.

"Pada prinsipnya di Garuda Indonesia ini memang banyak diskriminasi yang terjadi terhadap perlakuan pegawai sangat kental," ungkap Zaenal.

"Misalkan, budget kami (awak kabin) kadang-kadang untuk men-support kepada bagian yang lain, artinya ada darat, pilot, dan kabin," ujarnya.

Diskriminasi juga terlihat saat tengah melakukan penerbangan jarak jauh.

Tekadang para awak kabin tidak diberi fasilitas penginapan.

Bahkan hak mereka untuk mendapatkan tunjangan perjalanan kerjapun tidak diberikan.

"Misalnya seperti uang terbang kami, kemudian adanya penerbangan jarak jauh dengan tidak menginap itu kan cost produksinya menjadi kecil," ungkapnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas