Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Arif Rahman Dukung Nadiem Makarim Hapus UN

Karena fasilitas pendidikan dan guru yang disediakan pemerintah berbeda-beda di setiap daerah.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Arif Rahman Dukung Nadiem Makarim Hapus UN
dok. ICANDO
Nadiem Makarim menyikapi hasil PISA 2018. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat pendidikan Arif Rahman Hakim mengapresiasi keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim menghapus Ujian Nasional (UN) mulai 2021.

Karena fasilitas pendidikan dan guru yang disediakan pemerintah berbeda-beda di setiap daerah.

"Kalau UN dilakukan kepada fasilitas yang disediakan pemerintah yang berbeda-beda, itu kan tidak adil. Maka UN itu tidak tepat untuk dilakukan secara umum," ujar Arif Rahman Hakim melalui sambungan telepon kepada Tribunnews.com, Rabu (11/12/2019).

"Karena itu saya pikir memang tepat UN dihapuskan sebagai evaluasi seluruh Indonesia," tegas Arif Rahman Hakim.

Baca: Pengamat Pendidikan Sebut Penghapusan UN Langkah Baik: UN Telah Membuat Disorientasi Pendidikan

Dia mengatakan, sudah sejak lama menyuarakan agar UN dihapuskan dari dunia pendidikan di Indonesia.

Bagaimana dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter sebagai pengganti UN?

Menurut dia, memang perlu ada standar kemampuan minimum yang harus dikuasai oleh setiap anak-anak didik seluruh Indonesia.

Rekomendasi Untuk Anda

Standar kemampuan minumum itu harus dimiliki seorang siswa untuk naik ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

"Misalnya dinyatakan dia lulus dari SMA "A" di Jawa. Lalu di Papua, ada siswa lulus SMA. Mereka dinyatakan lulus setelah dinilai kemampuan minimumnya. Minimum seorang siswa itu menguasai 10 pokok bahasan dari 16 yang ada, umpanya. Itu minimum. Dan itu harus dikuasi para peserta didik," jelasnya.

Kalau tidak menguasai kemampuan minimum, maka seorang anak didik tidak punya kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni SD ke SMP, SMP ke SMA dan SMA ke Perguruan Tinggi.

"Jadi ada kemampuan minimum yang memang harus dikuasai oleh setiap anak-anak didik seluruh Indonesia," jelasnya.

Selain itu dia mengingatkan, pendidikan itu bukan hanya untuk capaian keilmuan saja.

Tapi yang paling penting dari pendidikan itu adalah membina karakter dari anak-anak didik dalam setiap fasenya.

Melalui pendidikan kata dia, anak-anak betul-betul bisa diberikan kesempatan berkembang karakternya menjadi jauh lebih dewasa dari posisinya yang ada sekarang.

"Umpamanya, anak kelas 6 SD. Dia harus punya karakter anak yang disebut remaja awal.Kalau sudah SMA itu sudah remaja, begitu selanjutnya," ucapnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas