Ada Cara yang Salah dalam Rekruitmen Pejabat Publik, Refly Harun: yang Dicari yang Lemah!
Pakar hukum tata negara Refly Harun menilai ada cara yang salah dalam proses rekruitmen pejabat publik.
Penulis:
Nanda Lusiana Saputri
Editor:
Siti Nurjannah Wulandari
"Kenapa? yang dicari itu yang lemah, yang tidak berintegritas, yang kurang memiliki kemampuan, yang tidak independen," papar Refly.
Bahkan, Refly menyebut, untuk orang-orang yang punya integritas, independen dan punya kemampuan dipastikan tidak akan terpilih.
"Itu terjadi salah satunya dengan beliau ini, Abdullah Hehamahua ketika mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK," ujar Refly.
Refly Harun Soal Kasus Harun Masiku
Sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 9 Januari 2020, keberadaan Harun Masiku belum diketahui hingga kini.
Diketahui, Harun Masiku terlibat dalam dugaan suap pergantian antar waktu (PAW) DPR periode 2019-2024 dari daerah pemilihan Sumatera Selatan I, yang melibatkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan.
PDIP merekomendasikan Harun Masiku sebagai pengganti PAW calon legislatif terpilih Sumatera Selatan I, Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia.
Terkait kasus Harun Masiku, Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun turut berkomentar.
Refly justru mempertanyakan siapa sebenarnya Harun Masiku.
Pasalnya, Refly beranggapan sosok Harun Masiku begitu penting bagi Partai PDIP.
Hal tersebut diungkapkan Refly dalam tayangan yang diunggah di kanal YouTube Indonesia Lawyers Club, Rabu (29/1/2020).
"Who is Harun Masiku? Siapa sih Harun Masiku itu? Jadi saya mau merekontruksi masalah ini."
"Kenapa dia begitu penting bagi partai untuk menjadi calon pengganti dari calon yang sudah meninggal," kata Refly.
Refly menyebut, Harun Masiku hanyalah calon legislatif yang menduduki urutan kelima suara terbanyak di daerah pemilihan Sumatera Selatan I.
"Kita tahu bahwa kita ini sistem proporsional terbuka, dalam sistem proporsional itu, mereka yang menduduki kursi adalah mereka yang mendapatkan suara terbanyak."