Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Mahasiswa yang diobservasi Terkait Virus Corona Khawatir Status Pendidikan Mereka

Sayangnya karena terjadi wabah corona mereka hanya mendapatkan teori saja yang bisa diakses secara online

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Mahasiswa yang diobservasi Terkait Virus Corona Khawatir Status Pendidikan Mereka
Tribunnews.com/Apfia Tioconny Billy
Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (10/2/2020) 

Jika benar ada, di mana virus corona Wuhan?

Penderita yang terinfeksi virus Corona di keluarkan dari kapal pesiar Diamond Princess untuk di evakuasi di karantina di rumah sakit Yokohama.
Foto Richard Susilo
Penderita yang terinfeksi virus Corona di keluarkan dari kapal pesiar Diamond Princess untuk di evakuasi di karantina di rumah sakit Yokohama. Foto Richard Susilo (Richard Susilo)

Hal ini masih menjadi teka-teki yang belum bisa dijawab.

Ahli virus Christopher Mores dari Milken Institute School of Public Health University yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan, itu karena transmisi virus terbukti berbeda di luar zona wabah utama untuk beberapa alasan yang belum dijelaskan.

Baca: Terus Bertambah, Korban Tewas Akibat Virus Corona Kini Mencapai 813 Orang

"Atau kita hanya tidak menangkapnya dan menghitungnya, atau gagal saat mendeteksi," imbuh Mores.

Hingga kini, Indonesia, Thailand, dan Kamboja benar-benar menyeleksi turis dari China.

"Indonesia tengah melakukan apa yang mungkin untuk dipersiapkan dan mencegah dari virus corona baru," kata Dr. Navaratnasamy Paranietharan, perwakilan Indonesia dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada Sydney Morning Herald.

Ia juga mengatakan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di bidang pengawasan dan deteksi kasus virus corona baru.

Rekomendasi Untuk Anda

Reaksi Kemenkes

Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menganggap penelitian yang dilakukan para peneliti Harvard itu hanya berdasarkan kalkulasi matematis.

s
Kepala Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Siswanto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/2/2020).(KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Pihak Kemenkes juga berpendapat hal tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.

Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Badan Litbang Kesehatan Kemenkes, dr Siswanto.

"Penelitian Harvard itu model matematik untuk memprediksi dinamika penyebaran novel corona virus berdasarkan seberapa besar orang lalu lalang," ujarnya yang dikutip dari Kompas.com.

Lebih lanjut Siswanto menjelaskan, menurut hitungan sstematis, seharusnya terdapat enam hingga tujuh kasus positif virus corona di Indonesia.

Namun hingga hari ini belum ada ditemukannya satu kasus pun yang dinyatakan positif corona.

Baca: 2 Orang Lari dari Karantina Virus Corona, Polisi Hong Kong akan Keluarkan Surat Perintah Penangkapan

Baca: 43 Orang Terinfeksi Virus Corona, 6 Orang Sembuh di Singapura

Hal itu berdasarkan dari hasil pemeriksaan di laboratorium Litbang Kemenkes.

"Kalau diprediksi harusnya ada 6 kasus, ternyata sampai hari ini tidak ada," ujarnya.

Sehingga Siswanto menuturkan bahwa penelitian dari Harvard tersebut hanya sebuah presdiksi.

Menurutnya seharusnya kita bersyukur karena di Indonesia bersih dari virus corona.

"Ya harusnya justru kita bersyukur. Kita sudah teliti dengan benar," kata Siswanto.

"Itu (penelitian ahli Harvard) hanya prediksi saja," ujarnya.

Halaman 4/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas