Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun

Pengamat Terorisme Sebut Eks ISIS Gampang Bohong, Korban Terorisme: Berat Menerima, Trauma Masih Ada

Wacana pemulangan lebih dari 600 WNI eks ISIS ke Tanah Air menuai polemik dan perdebatan banyak pihak.

Penulis: Nanda Lusiana Saputri
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in Pengamat Terorisme Sebut Eks ISIS Gampang Bohong, Korban Terorisme: Berat Menerima, Trauma Masih Ada
Twitter/of_crowned
Ilustrasi ISIS 

TRIBUNNEWS.COM - Wacana pemulangan lebih dari 600 Warga Negara Indonesia (WNI) eks Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ke Tanah Air menuai polemik dan perdebatan banyak pihak.

Meski belum ada keputusan dari pemerintah soal wacana tersebut, namun banyak pihak yang menolak pemulangan WNI eks ISIS tersebut.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib mengingatkan pemerintah, bahwa terkait dengan ideologi yang dianut ISIS, merupakan hal yang sulit dideteksi.

Apalagi di Indonesia belum ada prosedurnya.

"Misalnya ada juga kasus mantan napi yang tidak berhasil sembuh."

Peneliti terorisme dan intelijen dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib, menjadi pembicara pada diskusi terkait Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), di kantor redaksi Tribun, Jakarta Pusat, Senin (23/3/2015). TRIBUNNEWS/HERUDIN
Peneliti terorisme dan intelijen dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib, menjadi pembicara pada diskusi terkait Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), di kantor redaksi Tribun, Jakarta Pusat, Senin (23/3/2015). TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN )

"Yang kemudian justru mantan napi begitu keluar dari penjara walaupun dia sudah menandatangani pembebasan bersyarat, dia justru kemudian bermain lagi, mengebom lagi," ujar Ridlwan seperti dikutip Tribunnews.com dari tayangan yang diunggah di kanal YouTube KompasTV, Senin (10/2/2020).

Menurutnya, Eks ISIS tidak bisa hanya sekedar menulis surat pernyataan di atas kertas pro-NKRI.

Berita Rekomendasi

Namun, ISIS juga punya doktrin taqiyah atau berpura-pura di depan musuh.

Atau dengan kata lain, eks ISIS ini mudah untuk berbohong.

"Ini yang saya kira harus hati-hati ketika mengambil opsi dipulangkan atau dideradikalisasi di dalam negeri," terang Ridlwan.

Sementara itu, bagi korban bom teroris, yang dilakukan para anggota ISIS, pemulangan WNI eks ISIS bisa menyebabkan trauma mereka tidak pulih.

Baca: Soal Pemulangan 600 WNI Eks ISIS, Ngabalin: Makan Itu Kau Punya Paspor

Baca: Tolak Pemulangan WNI eks ISIS, Ali Ngabalin: Sudah Sebut Negara Ini Thoghut, Kafir, Bakar Paspor

Seperti yang diungkapkan korban bom gereja di Surabaya yang keberatan dengan wacana pemulangan ratusan WNI eks ISIS ke Indonesia.

Korban ledakan bom di gereja Santa Maria Tak Bercela pada Mei 2019 lalu, Ipda Ahmad Nurhadi mengaku masih trauma.

"Kalau melihat kejadian yang saya alami saat ini, sebetulnya berat menerima ya, karena rasa trauma masih ada," kata Nurhadi.

Apalagi dengan kondisinya yang tuna netra dan cacat permanen.

"Apalagi seperti dilihat saat ini kondisi keadaan saya, penglihatan buta permanen, kaki juga masih belum pulih ."

"Jadi sepertinya berat kalau menerima kelompok seperti mereka," ungkapnya.

Tanggapan Mantan Teroris Soal Pemulangan WNI Eks ISIS

Mantan teroris Sofyan Tsauri menuturkan, beberapa waktu lalu ia sempat dihubungi oleh rekan di Suriah.

"Beberapa bulan sebelum ini, sekitar 3 bulan, 4 bulan yang lalu, saya juga dihubungi oleh rekan di Suriah yang berjuang di sana."

"Mereka menginformasikan kepada saya bahwa di Kota Idlib itu ada beberapa pengungsi yang mereka ingin pulang ke Indonesia," kata Sofyan, dikutip Tribunnews.com dari tayangan yang diunggah di kanal YouTube Talk Show TVOne, Jumat (7/2/2020).

Lebih lanjut, Sofyan menjelaskan alasan mengapa mereka ingin dipulangkan.

Alasan tersebut di antaranya adalah, ada perempuan yang suaminya sudah meninggal.

Selain itu, para WNI eks ISIS tersebut juga sudah tidak memiliki paspor.

"Mereka ingin pulang karena mereka sudah kehabisan bekal dan dalam kondisi yang mencekam."

"Karena hampir setiap hari pesawat dari Rusia dan Suriah juga membombardir daerah yang disebut Kota Idlib itu," ungkap Sofyan.

Baca: Istana Sebut Wacana Pemulangan 600 WNI Eks ISIS Tak Mudah & Belum Diputuskan: Jangan Bebani Negara

Kemudian Sofyan menjelaskan soal kekhawatirannya jika mereka dipulangkan ke Indonesia.

"Yang kita khawatirkan sebetulnya bentuk pragmatisme atau opportunity."

"Artinya mereka berpura-pura mengadakan tauriyah atau kitman atau disebut juga taqiyyah."

"Mereka berpura-pura menyesal lalu mereka masuk, ini yang kita khawatirkan," ungkapnya.

Sofyan kemudian memaparkan beberapa kasus yang terjadi saat WNI eks ISIS dideportasi dari Turki ke Indonesia.

"Sebelumnya sejak 2015 ada misalnya berangkat Muhammad Aulia warga Aceh yang berangkat ke Afganistan."

"Tahun 2019, lalu ada Ruli dan Ulfa mereka 2017 ketemu saya di Kemensos waktu itu, mereka dideportasi, akhirnya mereka 2019 mengadakan bom bunuh diri di Filipina," ungkapnya.

"Nah dari kejadian-kejadian ini mengkhawatirkan kami semua," tegasnya.

(Tribunnews.com/Nanda Lusiana Saputri)

Sumber: TribunSolo.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas