Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pengusul RUU Ketahanan Keluarga, Ledia Hanifa: Ada Argumentasi dan Diskusi itu Biasa

Anggota DPR yang juga menjadi inisiator RUU Ketahanan Keluarga ini menganggap polemik terkait proses legislasi RUU Ketahanan Keluarga

Pengusul RUU Ketahanan Keluarga, Ledia Hanifa: Ada Argumentasi dan Diskusi itu Biasa
dok. DPR RI
Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah. 

Menurutnya, unit terkecil masyarakat adalah keluarga. Keutuhan, kerukunan, keharmonisan, menjadi pilar bagi sebuah keluarga.Namun pasal-pasal dalam draf RUU Ketahanan Keluarga ini dianggap banyak bertentangan dengan aturan lain, misalnya UU Hak Asasi Manusia.

Pasal 23 ayat (3) poin a, membatasi perempuan hanya sekadar kewajiban mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya. Bahkan urusan kamar pun diatur. Kewajiban istri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), antara lain:
a. wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya;
b. menjaga keutuhan keluarga; serta
c. memperlakukan suami dan Anak secara baik, serta memenuhi hak-hak suami dan Anak sesuai norma agama, etika sosial, dan ketentuan peraturan perundang-undangan

Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga juga mengatur tentang penanganan krisis keluarga yang disebabkan penyimpangan seksual. Penyimpangan seksual yang dimaksud dalam RUU Ketahanan Keluarga tertuang dalam penjelasan Pasal 85.

Baca: Tolak RUU Ketahanan Keluarga, Istana: Terlalu Menyentuh Ranah Pribadi

Berdasarkan penjelasan pasal tersebut, ada empat jenis penyimpangan seksual. Empat jenis penyimpangan seksual itu meliputi:

a. Sadisme adalah cara seseorang untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan menghukum atau menyakiti lawan jenisnya.
b. Masochisme kebalikan dari sadisme adalah cara seseorang untuk mendapatkan kepuasan seksual melalui hukuman atau penyiksaan dari lawan jenisnya.
c. Homosex (pria dengan pria) dan lesbian (wanita dengan wanita) merupakan masalah identitas sosial di mana seseorang mencintai atau menyenangi orang lain yang jenis kelaminnya sama.

d. Incest adalah hubungan seksual yang terjadi antara orang yang memiliki hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah, ke atas, atau menyamping, sepersusuan, hubungan semenda, dan hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang untuk kawin.

Selanjutnya, dalam Pasal 86 - Pasal 87, pelaku penyimpangan seksual wajib dilaporkan atau melaporkan diri ke badan atau lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk mendapatkan pengobatan atau perawatan.

Ikuti kami di
Editor: Rachmat Hidayat
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas