Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Cerita Emil Dardak Suka 'Wayangan' dengan Khofifah

Untuk kemudian memberikan semangat, bahwa pemimpin itu kudu iso ngelakoni. Jangan hanya bisa menyampaikan tapi tidak bisa ngelakoni. Kan' itu penting

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Cerita Emil Dardak Suka 'Wayangan' dengan Khofifah
Wartakota/Nur Ichsan
SILATURAHMI - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Redaksi Tribunnews Grup di Jakarta, Sabtu (14/3/2020). (Warta Kota/Nur Ichsan) 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak telah bekerja selama setahun. Emil bercerita bagaimana dapat bahu-membahu bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk membangun provinsi terbesar kedua di Indonesia.

Emil Dardak berkunjung ke markas besar Tribun Network di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3). Di sela-sela kesibukannya, ia melakukan audiensi bersama awak Tribun Network, yakni General Manager Content Tribun Network Domu A Ambarita, Staf Direksi Cecep Burdansyah, Rachmat Hidayat, News Manager serta jajaran awak Tribun Network lainnya.

Pada kesempatan itu, Emil Dardak memaparkan sejumlah hal yang menjadi fokus pembangunannya di Jawa Timur. Emil juga menjelaskan secara detail bagaimana Jawa Timur mengatasi wabah virus corona Covid-19. Selama setahun ini, ucap Emil, ia merasa dapat menjalin kerja sama yang baik bersama Khofifah.

Baca: BREAKING NEWS: Presiden Jokowi Tegaskan Pemerintah Belum Memilih Opsi Lockdown

"Kita suka wayangan. Maksudnya kalau besok ada paparan sangat penting saya sama Bu Gubernur itu begadang. Tek-tokan, kirim e-mail, revisi. Jadi ya kita sebutnya wayangan," kata Emil Dardak kepada Tribun Network. Berikut wawancara mengenai 'kecocokan' dalam hal kerja sama antara Emil Dardak dan Khofifah Indar Parawansa.

Bagaimana Anda berbagi peran dengan Khofifah?

Satu hal bahwa commander itu gubernur. Dan hanya momen-momen di mana gubernur secara official tidak, itu baru wakil gubernur bisa menjalankan tugas gubernur. Tetapi keputusan ada di gubernur. Gubernur punya diskresi bagaimana itu semua akan dilakukan.

Baca: Ayu Maulida jadi Pemenang Puteri Indonesia 2020, Khofifah dan Emil Dardak Sampaikan Selamat

Kami sebagai wakil difungsikan oleh gubernur sebagaimana bisa mendukung kinerjanya dengan baik. Tentunya kita sadar ada sensitivitas mana kala apa bedanya seorang kepala dinas dengan seorang gubernur.

Rekomendasi Untuk Anda

Pernah tidak, ada yang membandingkan kepala dinas dengan gubernur?

Tidak pernah.Yang dibandingkan gubernur dengan wakil gubernur, bupati dengan wakil bupati, jadi kalau kepala dinas itu rajin, aktif, orang itu tidak pernah kemudian membandingkan dengan bupatinya.

Tapi wakilnya akan dibandingkan dengan bupatinya.Apakah kemudian ini menjadi sebuah alasan untuk kita tidak menjalankan kinerja, bukan. Tetapi bagaimana kita menjalin komunikasi dan sebagainya, kalau dulu Pak Jusuf Kalla pernah ngomong, seninya menjadi wakil itu manage people tapi juga manage the boss. He-he. Beliau dua periode dengan presiden yang berbeda. 

Baca: Virus Corona Mewabah di Dunia, 7 Negara Ini Lakukan Lockdown

Bagaimana dengan anggapan bahwa seorang wakil itu adalah 'ban serep'?

Jadi yang dapat saya katakan definisi ban serep itu definisi yang sangat sederhana. Dikatakan iya ya tidak, dikatakan tidak ya tidak. Artinya kita tidak boleh mengatakan oh saya bukan ban serep. Mungkin yang lebih tepat, "Bukan sekedar ban serep,".

SILATURAHMI - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Redaksi Tribunnews Grup di Jakarta, Sabtu (14/3/2020). (Warta Kota/Nur Ichsan)
SILATURAHMI - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Redaksi Tribunnews Grup di Jakarta, Sabtu (14/3/2020). (Warta Kota/Nur Ichsan) (Wartakota/Nur Ichsan)

Itu kata-kata yang lebih tepat. Bahwa kita, kita harus siap untuk mem-back up. Ini kan' team work, dan Bu Gubernur (Khofifah) orang yang sangat menyadari. Misalnya kita menerima kunjungan pejabat tinggi dari daerah lain atau negara lain. Ya harus diterima oleh gubernur atau wakil gubernur.

Baca: Yunarto Wijaya Kritik Kebijakan Pemprov DKI Batasi Transportasi Umum Terkait Pencegahan Virus Corona

Di sini kita harus siap, mungkin gubernur ada hal yang sangat urgent, yang harus dilakukan. Di sini artinya kami mencoba ada seninya antara kita merancang program kita, dan kita siap-siap untuk menerima limpahan situasi yang muncul dari gubernur. Di sini dinamikanya kadang-kadang kita set waktu tapi Bu Khofifah tipe orang yang bisa diajak diskusi.

Bu, saya ada agenda ini, tapi monggo kira-kira agenda saya ini sama agenda ini mana yang diutamakan. Dan beliau juga bisa ngomong tolong yang ini saja, yang ini kasihkan itu. Kadang-kadang agenda saya disuruh ngalah, kadang-kadang udah agendamu jalan aja. Kadang saya juga harus bisa memutuskan sendiri tanpa perlu setiap saat tanya.

Baca: Cerita WNI Hadapi Lockdown di Italia: Kami Menerima Situasi dengan Positif

Jadi ada sebuah etika birokrasi, pemerintahan yang kita jalankan. Tetapi di sisi lain, beliau juga punya style yang menarik. Beliau senang suruh saya atau Pak Sekda untuk memimpin rapat. Tapi beliau sambil mencermati betul setiap orang, sambi dia baca, dia cek, tiba-tiba angkat tangan, dia bisa nunjukin dokumen tebal mana aja yang miss.

Dan dia melihat, sambil kita memandu. Makanya saya bilang ini bukan memimpin bu, tapi memandu rapat he-he. Jadi saya selalu melihat Bu Khofifah, sebagai contoh siapa sesepuh di Golkar hari ini? Pak Akbar Tanjung, bayangkan Pak Akbar Tanjung Ketua DPR, Bu Khofifah sudah jadi Wakil Ketua DPR.

Sebegitu seniornya beliau. Dari zaman Gus Dur, bahkan sebelum itu pun, beliau sudah terkenal dengan pidatonya yang kemudian tidak mengikuti script yang sudah di-provide. Tiba-tiba beliau tidak menggunakan skrip. Jadi saya melihat beliau punya jam terbang yang luar biasa, tapi tidak di masa lalu.

Baca: Emil Dardak Ungkap Rahasia Suara Emas yang Dimiliki Tiara, Ternyata Berasal dari sang Ibunda

Karena beliau sampai hari ini masih jadi politisi yang relevan, yang update. Jadi menarik. Bagi saya ini menjadi kesempatan luar biasa bisa menjadi deputi dari seorang yang track record yang seperti itu.

Ada pembagian tugas secara spesifik? Misal urusan ekonomi Anda atau sebaliknya?

Tidak, karena dinamikanya sangat tinggi sekali. Ide itu sangat fluid. Misal contoh penanganan corona sampai bencana, kemudian advice saya dianggap dibutuhkan dan dibuka pintu seluas-luasnya untuk saya menyampaikan hal-hal yang saya monitor di lapangan. Tapi bahwa artinya di sisi lain, saya pernah menjadi bupati.

Yang kadang-kadang tidak terbayangkan oleh masyarakat mungkin, meja itu dokumen satu tumpukan tinggi. Bayangkan Gubernur Jawa Timur. Itu saat saya jadi Bupati Trenggalek. Dan itu banyak membutuhkan atensi administratif dari gubernur. Saya mencoba mem-back up.

Baca: Jokowi Sudah Jalani Tes Corona, Ini Hasilnya

Bu Gubernur suka meminta advice ke saya yang sifatnya sangat substantif, atau yang berkaitan dengan milenial, berkaitan dengan seni, ekonomi, tapi bukan berarti itu diserahkan sepenuhnya. Tetap keputusan di tangan Bu Gubernur.

Tetapi beliau memberikan porsi substantif, kebetulan saya senang dengan porsi substantif itu karena hakekatnya saya sebelum masuk di politik saya kan' lama di world bank.

Kemudian juga di lembaga perbankan tapi untuk infrastruktur.Jadi memang, kita kadang-kadang suka guyon, kita suka wayangan. Maksudnya kalau besok ada paparan sangat penting saya sama Bu Gubernur itu begadang. Tek-tokan, kirim e-mail, revisi. Jadi ya kita sebutnya wayangan.

Sekarang jadi wakil gubernur berapa tebal tumpukan dokumen di meja?

Wakil gubernur malah tidak punya tumpukan. Ada, tapi biasanya bukan karena kita harus menandatangani, tapi menela'ah. Dan sekarang papperless ya. Akhirnya diberikan kepada saya dalam bentuk file.

Ada waktu khusus pembagian blusukan?

Meninjau lapangan itu penting karena kita bisa mendapatkan sense. Bisa mendapatkan atau memahami situasi lapangan langsung. Makanya kenapa kita turun saat bencana tujuannya setiap pasukan di garda terdepan itu kan' mereka tahu, kita bersama mereka.

Tentunya kita punya pembagian tugas, punya role masing-masing. Tapi kami siap berjuang di lapangan untuk berjuang bersama-sama dengan pihak yang ada di garda terdepan. Jadi saat membersihkan sungai Bu Khofifah ada atau saya yang diutus, itu kadang penting.

Baca: Buntut Penumpukan Penumpang, Polisi Bakal Koordinasi Dengan Dishub DKI Jakarta

Untuk kemudian memberikan semangat, bahwa pemimpin itu kudu iso ngelakoni. Jangan hanya bisa menyampaikan tapi tidak bisa ngelakoni. Kan' itu penting. Saya kadang-kadang bentuk saya ngelakoni, saya analisa saya ketik saya sampaikan kepada tim.

Tapi kalau saya mengerjakan semua, artinya saya bukan leader. Saya coba masuk ke satu detail untuk contoh yang sangat konkret yang bisa dilakukan. "Gini lho pak, ada 10 lampiran, ini saya contohkan satu begini,". Sehingga menggambarkannya jadi lebih mudah.

Baca: BREAKING NEWS: Jokowi Minta Satgas Covid-19 Jadi Satu-satunya Rujukan Informasi di Indonesia

Menurut saya definisi blusukan itu bukan hanya terjun ke lapangan, tetapi bisa masuk dan sejiwa dengan yang ada di lini terdepan. Yang menarik Jawa Timur ini luas, dari Surabaya ke Banyuwangi berapa ratus km. Dan ada bupati ada wali kota. Saat kita turun kita mempertimbangkan skala kejadian.

Misal di Jember ada jalan yang ambruk, ada ruko ambles masuk ke sungai, skala sebesar itu kemudian lumpuh. Maka seyogyanya kita sebagai pimpinan wilayah hadir. Banjir yang melanda jalan tol kita hadir. Tentunya kita harus bisa melakukan time management juga karena roda pemerintahan 40 juta masyarakat. 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas