Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Menhan Prabowo Tak Ingin Kawasan ASEAN Jadi Medan Perang

Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto telah berupaya menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak untuk meredam konflik di Laut China Selatan.

Menhan Prabowo Tak Ingin Kawasan ASEAN Jadi Medan Perang
Angkatan Udara Pasukan Beladiri Jepang (ASDF)
Pesawat tempur Jepang dan Amerika Serikat monitor sekitar Semenanjung Korea dan wilayah Laut China Selatan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto telah berupaya menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak untuk meredam konflik di Laut China Selatan.

Juru Bicara Menteri Pertahanan RI tersebut mengatakan bila Prabowo Subianto telah berkomunikasi dengan sejumlah Menteri Pertahanan di Asia Tenggara khususnya negara anggota ASEAN menyikapi memanasnya situasi keamanan di Laut China Selatan.

Ia berharap wilayah ASEAN tidak dijadikan sebagai medan perang terkait konflik di Laut China Selatan belakangan ini.

Dahnil Anzar mengatakan upaya diplomasi pertahanan serupa juga tidak hanya dilakukan kepada negara-negara di kawasan Asia Tenggara anggota ASEAN.

Baca: 3 Kapal Induk AS yang Bawa Ratusan Jet Tempur F-18 Tiba di Laut China Selatan

Prabowo juga melakukan langkah diplomasi dengan negara-negara yang sedang bersitegang di kawasan Laut China Selatan yakni China dan Amerika.

Dahnil mengatakan dalam upaya diplomasi pertahanan tersebut pada intinya Prabowo mengajak semua negara untuk membangun collective security system (sistem keamanan kolektif) di kawasan Asia Tenggara.

"Jadi kita membangun solidaritas di satu sisi, di sisi lain kita juga memastikan pertahanan negara-negara itu kuat .Walaupun kita paham juga negara-negara kawasan punya keterkaitan dengan negara-negara yang sedang berkonflik. Tapi kita juga terus mengajak supaya jangan sampai kawasan kita itu jadi battle ground (medan perang). Sehingga yang dibangun itu tadi, collective securty sistem," kata Dahnil dalam diskusi Forum Monitor Seri 4 yang diselenggarakan Monitor.id secara virtual. Kamis (18/6/2020).

Baca: AS Terbangkan Pesawat Pembom dan Drone Pengintai ke Laut China Selatan

Dahnil mengatakan dalam upaya diplomasi pertahanan tersebut, Indonesia tidak menggunakan sudut pandang balance of power atau keseimbangan kekuatan.

Karena menurut Dahnil perspektif balance of power tersebut akan memunculkan persaingan kekuatan bukan solidaritas dan perdamaian sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang.

Halaman
1234
Penulis: Gita Irawan
Editor: Malvyandie Haryadi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas