Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Komisi X DPR Harap Pembelajaran Tatap Muka Tetap Utamakan Kesehatan dan Keselamatan  

fasilitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) tetap diadakan bagi orangtua yang memilih untuk tidak memasukkan anaknya ke sekolah.

Komisi X DPR Harap Pembelajaran Tatap Muka Tetap Utamakan Kesehatan dan Keselamatan  
dpr.go.id
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah mengumumkan kebijakan penyesuaian pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Dimana terdapat perluasan zona yang diperbolehkan untuk menjalankan pembelajaran tatap muka yakni zona kuning. 

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengatakan dirinya memahami kebijakan 4 menteri yang bersifat multidimensional. 

Meski demikian, Hetifah menekankan bahwa kesehatan dan keselamatan tetaplah harus menjadi prioritas. 

"Harus ada mekanisme dari pemerintah untuk mengontrol bahwa memang sekolah yang akan dibuka benar-benar memenuhi daftar periksa. Jangan sampai itu hanya menjadi formalitas dan di lapangan tidak dilakukan. Jika perlu, adakan sidak-sidak untuk memantau keberjalanannya, dan berikan sanksi bagi sekolah ataupun pemda yang terbukti belum memenuhi prasyarat tapi sudah berani membuka," ujar Hetifah, kepada Tribunnews.com, Sabtu (8/8/2020). 

Baca: Nadiem Siapkan Kurikulum Darurat Bagi Sekolah yang Masih Menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh

Politikus Golkar tersebut berharap fasilitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) tetap diadakan bagi orangtua yang memilih untuk tidak memasukkan anaknya ke sekolah. 

Dia mencontohkan ketika ada sekolah dibuka, namun sebagian orangtua merasa belum nyaman memperbolehkan anaknya untuk pembelajaran tatap muka

Maka mereka harus difasilitasi untuk tetap menjalankan PJJ. Seperti proses belajar mengajar di kelas divideokan atau siswa lain bisa mengikuti melalui aplikasi telekonferensi.

"Jangan sampai karena sekolah dibuka dan mayoritas siswa masuk sekolah, mereka yang memilih untuk tetap di rumah jadi terdiskriminasi," ungkapnya.

Selain itu, Hetifah berharap kurikulum adaptif ini dapat digunakan bukan hanya mereka yang melakukan pembelajaran jarak jauh, tapi juga yang melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. 

"Meski Kemendikbud memberikan opsi untuk menggunakan kurikulum sederhana atau tetap yang biasa, saya sarankan lebih baik sudah semuanya pakai yang sederhana saja. Yang tatap muka pun di kondisi seperti ini pasti akan stres kalau disuruh mengejar materi terlalu banyak. Guru-guru juga akan banyak sekali bebannya, karena harus mengajar lebih dari satu shift," imbuhnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas