Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

BNPT Sebut Terorisme Menghalalkan Segala Cara untuk Himpun Dana

BNPT menyebut keberadaan kotak amal di minimarket dan tempat lainnya harus segera ditertibkan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in BNPT Sebut Terorisme Menghalalkan Segala Cara untuk Himpun Dana
Tribunnews.com
Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut keberadaan kotak amal di minimarket dan tempat lainnya harus segera ditertibkan

Hal tersebut dilakukan seiring adanya temuan aliran dana kegiatan terorisme dari kotak amal. 

Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris mengatakan, selain minimarket, kotak amal di rumah ibadah dan sekolah juga perlu ditertibkan. 

Baca juga: Silaturahmi dengan Penyintas Terorisme, Kepala BNPT Berikan Dukungan dan Semangat

Namun, kata Irfan, kotak amal di rumah ibadah tidak bisa digeneralisir.

"Kalau mau menyumbang, langsung saja ke keluarga dan fakir miskin, langsung tepat sasaran,” ujar Irfan dalam diskusi Alinea Forum ‘Membajak Kedermawanan Rakyat; Eksistensi Kelompok Teror dan Penggalangan Pendanaan’, Senin, (28/12).

Menurutnya, penyalahgunaan kotak amal dari kedermawanan masyarakat merupakan contoh bagaimana terorisme menghalalkan segala cara untuk menghimpun dana.

Baca juga: BNPT Rilis Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional dan Luncurkan BNPT TV Channel

Rekomendasi Untuk Anda

"Bahkan, memanfaatkan istilah-istilah yang dianggap suci. Meski hanya Rp200-Rp500, sumbangan ke kotak amal minimarket dapat terkumpul sangat banyak, karena jumlahnya ribuan," paparnya. 

Sedangkan Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi menilai, kotak amal untuk kegiatan terorisme merupakan bagian kecil dari gerakan menghimpun dana.

Baca juga: Upayakan Reintegrasi Optimal, Kepala BNPT Tinjau Langsung Mitra Deradikalisasi di Medan

Ia menjelaskan, untuk menghidupkan ideologi radikal-intoleran sangat diperlukan sokongan dana dan geliat kegiatan teror. 

“Yang jauh berbahaya (daripada kotak amal) adalah keterlibatan perusahaan besar, swasta, dan negara, yang dikutip dari CSR-nya (corporate social responsibility) untuk yang tidak secara langsung pada gerakan militer-nya (jejaring teroris), tetapi terlibat dalam gerakan untuk tataran doktrin. Nah, kita tidak boleh lengah,” tutur Islah.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas