Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

SBY: Era Saya Dulu Pers Sangat Kritis, Sangat Keras Bahkan Terkadang Sangat Sinis

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenang hubungan pers dengan pemerintah saat dirinya memimpin pemerintahan selama 10 tahun.

SBY: Era Saya Dulu Pers Sangat Kritis, Sangat Keras Bahkan Terkadang Sangat Sinis
Tangkapan layar Youtube TVOne
Presiden keenam Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden keenam Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenang hubungan pers dengan pemerintah saat dirinya memimpin pemerintahan selama 10 tahun.

SBY mengungkapkan, semasa kepemimpinannya kebebasan berekspresi dalam mengutarakan pendapat nyaris tanpa batas.

Dia menyebut, hampir setiap hari kritik tertuju kepada pemerintah saat itu.

Baca juga: Rumah Makan yang Terang Benderang Itu Dilihat Enjang Jurang Berkabut, Itulah Awal Dia Kesasar

Baca juga: CERITA LENGKAP Avanza Tersesat, Lihat Ada Kampung di Tengah Hutan, Mau Putar Balik Dihadang Longsor

"Boleh dikatakan tiada hari tanpa kritik. Maklum pada waktu itu kita masih berada dalam euforia kebebasan, euforia reformasi, dengan demikian freedom of speech, freedom of the press luar biasa ekspresinya dan kita semua harus memahami konteks waktu itu," kata SBY dalam wawancara dengan TV One yang disiarkan melalui YouTube TVOneNews, Senin (15/2/2021).

Baca juga: Komentar SBY soal Kritik pada Pemerintah, Ibaratkan Kritik Laksana Obat dan Pujian Layaknya Gula

SBY mengibaratkan, hubungan antara pemerintah dengan media massa atau pers seperti benci dan cinta (hate and love).

Ia menjelaskan, hubungan cinta antara pemerintah dan media massa muncul ketika semua kebijakan dan imbauan pemerintah bisa disiarkan di media massa.

Sementara benci, muncul ketika media massa melancarkan kritik keras serta sinis terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

"Hate-nya dalam artian ini adalah boleh dikatakan era saya dulu pers sangat kritis, sangat keras bahkan kadang-kadang sangat sinis," ujar SBY.

"Menghadapi itu terus terang sejumlah pejabat pemerintahan kurang nyaman. Tetapi itulah indahnya hate and love relation tadi, semuanya harus siap," lanjutnya.

Lebih lanjut, SBY menyatakan keberhasilan menjabat sebagai Presiden RI selama 2 periode tak lepas dari peranan pers.

Berbagai kritik yang tertuju kepada pemerintah membuat SBY berhati-hati dalam membuat kebijakan agar tidak menyimpang dan bertentangan dengan kehendak mayoritas rakyat Indonesia.

"Saya sendiri mengatakan merasa dikawal. Kalau saya bisa mengakhiri tugas saya dengan yang tadi itu tiada hari tanpa kritik, itu buat saya aware, buat saya berhati-hati dalam ambil keputusan dalam menetapkan kebijakan dan melaksanakan tindakan-tindakan pemerintah agar tidak menyimpang secara fundamental dari konstitusi, Undang-Undang, sistem politik, tata krama, dan sebagainya," ucapnya.

"Dan yang lebih penting jangan sampai kebijakan dan tindakan ini bertentangan dengan kehendak mayoritas rakyat Indonesia," pungkas SBY.

Penulis: chaerul umam
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas