Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Yenny Wahid: Radikalisme Bukan Persoalan Ajaran Agama

Yenny mengatakan yang jadi PR bagi pemerintah adalah mewaspadai teroris milenial, termasuk yang ada di dalamnya adalah perempuan.

Yenny Wahid: Radikalisme Bukan Persoalan Ajaran Agama
Gita Irawan
Putri Presiden Keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid, mendatangi kantor Kementerian Kordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) untuk membicarakan pertemuan antara Menko Polhukam Mahfud MD dengan Menteri Pertahanan Malaysia Mohammad Bin Sabu di kantor Kemenko Polhukam Jakarta Pusat pada Kamis (23/1/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation menegaskan bahwa radikalisme itu faktornya bukan persoalan ajaran agama.

Pernyataannya ini dibuktikan dari penelitian Wahid Foundation, dimana faktor seseorang dapat terdorong melakukan aksi terorisme adalah yang berkaitan dengan kesehatan mental.

“Faktor terbesar yang mendorong orang jadi radikal adalah perasaan gelisah, cemas, marah, dan adanya ketidakadilan yang dia ingin meluruskannya. Atau juga rasa frustasi, kegelisahan dan rasa tidak percaya diri, kemudian dia bertemu dengan orang-orang yang mendoktrinasi yang mengatasnamakan agama,” kata Yenny Wahid saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (8/4/2021).

Baca juga: Polisi Bisa Jerat Pemilik Akun Medsos Radikal

Menurutnya ketika seseorang merasakan kegelisahan, menjadi mudah untuk dimasuki doktrinisasi yang seolah-olah menawarkan jawaban atas kegelisahannya.

Yenny mengatakan orang itu akan seolah-olah merasa menjadi penting dan ketika orang yang tidak percaya diri itu mendapat peran untuk menjadi pahlawan, itu akan mereka ambil.

“Apalagi jika dasar nya seolah-olah adalah agama,” lanjutnya.

Yenny berujar doktrin tersebut bukan hanya terkait agama, namun doktrin itu juga bisa soal politik.

Hal tersebut dikarena isu politik yang berdasarkan teori konspirasi itu mampu membuat orang bersikap radikal.

Baca juga: Mantan Napi Terorisme: Para Ulama Perlu Diberdayakan untuk Tangkal Paham Radikal

Seperti yang terjadi di AS, ketika Trump membuat konten di medsos yang memprovokasi pengikutnya, sehingga mereka berbondong-bondong datang ke Capitol untuk melakukan penyerangan.

Pengikut yang gelisah karena merasa pemerintah baru akan membuat kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka anut, kemudian melakukan perbuatan radikal.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Theresia Felisiani
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas