Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Mudik Lebaran 2021

Larangan Mudik Efektif Menahan Mobilitas Warga Jelang Idul Fitri di Daerah

Pemerintah daerah hingga satuan terkecil sudah mulai menerapkan kebijakan larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah pusat.

Larangan Mudik Efektif Menahan Mobilitas Warga Jelang Idul Fitri di Daerah
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
H-1 Jelang Larangan Mudik Lebaran 2021 - Sejumlah pemudik bersiap naik kereta api Kutojaya Selatan tujuan Kutoarjo dan Kahuripan tujuan Blitar yang akan berangkat pukul 22.05 dan 23.10 WIB, di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (5/5/2021). Pada H-1 jelang larangan mudik Lebaran 2021 terhitung 6 Mei 2021, jumlah penumpang menuju ke arah Jawa Tengah dan Jawa Timur di Stasiun Kiaracondong mengalami peningkatan dari hari sebelumnya sebanyak 1.100 penumpang meningkat menjadi 1.213 penumpang dengan keberangkatan menggunakan KA Kahuripan, Kutojaya Selatan, Turangga, Malabar, Argowilis, dan Mutiara. Para pemudik tersebut dipastikan telah mengikuti tes GeNose C19 dan dinyatakan non reaktif Covid-19, tetap menggunakan masker dan menerapkan protokol kesehatan. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Pemerintah daerah hingga satuan terkecil sudah mulai menerapkan kebijakan larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah pusat.

Pantauan pada hari pertama larangan mudik sudah mulai tampak di daerah.

Kepala Desa Kota Baru, Kuta Alam, Banda Aceh Eddy Erwinsyah mengatakan larangan tersebut sangat efektif dalam menahan laju tingginya mobilitas warga pada hari raya lebaran, di desanya.

Baca juga: Cerita Warga yang Tak Bisa Mudik Tahun Ini, Gunadi Ikhlas 3 Kali Harus Berlebaran di Perantauan

Sejak pemerintah mengeluarkan larangan beberapa pekan lalu, hingga penerapannya dilakukan per hari ini, mobilitas warga yang masuk di desanya berkurang drastis.

Meski tidak merinci jumlahnya, Eddy mengatakan warga yang datang ke desanya bisa dihitung jari, berbeda dengan periode mudik tahun lalu.

"Dalam beberapa hari ini kita melihat dengan adanya larangan mudik dari pemerintah kami melihat berkurang warga yang datang ke desa kami," kata dia dalam diskusi yang digelar KPCPEN dan disiarkan Youtube Sekretariat Presiden, Kamis, (6/5/2021).

Baca juga: Guru di Deliserdang Terjaring Penyekatan Mudik saat Hendak Kerja, Terpaksa Turun dari Angkot

Menurut Eddy berkurangnya warga yang datang ke desanya, karena adanya pembatasan transportasi umum oleh pemerintah. Selain itu, petugas melakukan penyekatan di sejumlah ruas jalan.

"Jadi kami melihat sangat berkurang pergerakannya, tapi tidak tahu kalau antar kabupaten, kalau ke desa kami, sangat berkurang," katanya.

Meskipun demikian menurut Eddy, menjelang hari raya Idul Fitri, pihaknya terus memantau pergerakan warga yang datang ke desanya. Selain mendirikan posko Covid-19, ia mengintensifkan koordinasi dengan para kepala dusun.

"Kami meminta kepala dusun memantau pergerakannya penduduknya, keluar masuk, khususnya pendatang, kita minta pendatang benar benar dipantau asalnya dari mana, serta bagaimana kondisi kesehatannya. Kemudian kita juga berkoordinasi dengan kecamatan dengan puskesmas dan juga dinas kota Banda Aceh, koordinasi hampir setiap hari," tuturnya.

Eddy mengatakan bahwa larangan mudik kali ini sangatlah penting dalam menahan laju penyebaran Covid-19.

Bagaimana tidak menurutnya dalam sebulan terkahir kasus Covid-19 di desanya melonjak tajam dibandingkan satu tahun yang lalu.

Larangan mudik dan penegakan disiplin penerapan protokol kesehatan dari petugas sangat penting untuk mengurangi laju penyebaran virus Corona atau SARS-CoV-2.

"Kondisi Kasus covid-19 di desa kami cukup mengalami kenaikan yang luar biasa, karena sebelumnya tahun 2020 kami mencatat kasus yang lumayan kecil, total di tahun 2020 hanya 8 kasus, tapi di tahun 2021 ini mulai dari awal April sampai dengan saat ini sudah ada kasus itu sekitar 14 kasus dengan status penderitanya itu sekarang 5 orang sembuh, 8 isolasi mandiri dan 1 orang meninggal dunia," tuturnya.

Ikuti kami di
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Sanusi
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas