Tribun

Kasus Asabri

Aset Asabri yang Berhasil Disita Diperkirakan Mencapai Rp 13 Triliun

Kejaksaan Agung RI memperkirakan nilai aset yang berhasil disita terkait kasus korupsi PT Asabri (Persero) diperkirakan telah mencapai Rp 13 triliun.

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Aset Asabri yang Berhasil Disita Diperkirakan Mencapai Rp 13 Triliun
Tribunnews.com/Igman Ibrahim
Barang bukti atau aset-aset yang terkait perkara atas nama tersangka kasus korupsi PT Asabri (Persero) Heru Hidayat.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kejaksaan Agung RI memperkirakan nilai aset yang berhasil disita terkait kasus korupsi PT Asabri (Persero) diperkirakan telah mencapai Rp 13 triliun.

Direktur Penyidikan JAM Pidsus Kejaksaan Agung RI Febrie Adriansyah menyampaikan perkiraan nilai aset tersebut jika penyidik telah berhasil menyita aset tersangka yang berada di daerah Kalimantan Timur.

"Teman-teman sudah ada posisinya di daerah Kalimantan Timur. Saya belum berani buka tapi penyitaannya baru besok dilakukan. Kalau itulah bisa dilakukan (penyitaan) tanpa masalah kepemilikan pihak ketiga atau yang lain, itu diperkirakan sudah hampir Rp 13 triliun ya," kata Febrie kepada wartawan, Jumat (21/5/2021).

Ia menyatakan penyidik juga tengah masih menghitung nilai aset tambang yang disita dari tangan tersangka.

Baca juga: 2,9 Juta Meter Persegi Tanah Milik Tersangka Korupsi Asabri Benny Tjokrosaputro Disita

Penghitungan nilai aset tambang ini dinilainya membutuhkan waktu.

"Tambang sampai sekarang belum ya. masih ada kesulitan karena masih butuh waktu ternyata tidak bisa dengan waktu cepat untuk meneliti kandungan tambang. Tapi nanti sembari jalan persidangan kan tidak masalah ya," pungkasnya.

Sebelumnya, Tim Penyidik Kejaksaan Agung melimpahkan berkas perkara tahap I milik seluruh tersangka kasus dugaan korupsi PT Asabri kepada tim jaksa peneliti.

Kapuspenkum Kejagung Leonard Simanjuntak mengatakan berkas perkara tersebut milik sembilan tersangka.

Ia mengatakan Jaksa Peneliti akan meneliti kelengkapan sembilan berkas perkara tersebut.

"Baik mengenai kelengkapan syarat formal maupun kelengkapan syarat materiil dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari," ujar Leonard dalam keterangannya, Sabtu (1/5/2021).

Penelitian berkas perkara tahap pertama difokuskan pada kelengkapan syarat formal dan kelengkapan syarat materiil dari Berkas Perkara dimaksud.

Dalam hal jaksa peneliti atau penuntut umum berpendapat hasil penyidikan masih kurang lengkap, Jaksa Peneliti/Penuntut Umum akan mengembalikan Berkas Perkara disertai petunjuk untuk dilengkapi.

Penyerahan tahap pertama berkas perkara dugaan tindak pidana korupsi pada PT ASABRI atas nama sembilan tersangka tersebut, kata Leonard dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan tentang pencegahan penularan Covid-19.

"Antara lain dengan memperhatikan jarak aman, mengenakan masker dan menggunakan hand sanitizer," tutur Leonard.

Sembilan berkas itu adalah milik tersangka ARD selaku Dirut PT Asabri periode tahun 2011 s/d Maret 2016, SW selaku Direktur Utama PT. Asabri (Persero) periode Maret 2016 s/d Juli 2020, BE selaku Mantan Direktur Keuangan PT. Asabri periode Oktober 2008-Juni 2014, HS selaku Direktur PT. Asabri (Persero) periode 2013 s/d 2014 dan 2015 s/d 2019.

Lalu IWS selaku Kadiv Investasi PT. Asabri Juli 2012 s/d Januari 2017, LP selaku Direktur Utama PT. Prima Jaringan, BTS selaku Direktur PT. Hanson Internasional, HH selaku Direktur PT. Trada Alam Minera dan Direktur PT. Maxima Integra, serta JS selaku Direktur Jakarta Emiten Investor Relation.

Kepada para tersangka, penyidik menyangkakan dengan Pasal 2 ayat 1 jo pasal 18 uu 31 thn 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas