Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pemilu 2024 Diharapkan Digelar Lebih Manusiawi

Sebab dengan desain pemilu lima kotak, proses rekapitulasi pemungutan suara menjadi lebih lama.

Pemilu 2024 Diharapkan Digelar Lebih Manusiawi
WARTAKOTA/Henry Lopulalan
Suasana TPS 49 dengan tema Rindu Sekolah melaksanakan pemungutan suara di Perumahan Cendana, Pemulang, Tanggerang Selatan, Rabu (9/12/2020). Dengan mengunakan pakaian sekolah SD hingga SMA menjadi hiburan yang mengikuti penjoblosan pemilihan Walikota Tangsel. (WARTAKOTA/Henry Lopulalan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemilu dengan 5 kotak suara yang terjadi di tahun 2019 yang menggabungkan Pilpres, pemilihan anggota DPD, DPR RI, DPRD provinsi, serta DPRD kabupaten/kota, disebut pemilu yang berat, rumit dan kompleks.

Demikian disampaikan mantan penyelenggaran Ad Hoc Pemilu 2019, Dimas Permana Hadi dalam webinar Perludem bertajuk 'Konstitusionalitas Pemilu Lima Kotak dan Beban Kerja Penyelenggara Ad Hoc', Minggu (6/6/2021).

Menurut pengakuannya sebagai mantan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Ngaglik, Sleman, pemilu 2019 lalu sangat menguras tenaga dan pikiran.

Sebab dengan desain pemilu lima kotak, proses rekapitulasi pemungutan suara menjadi lebih lama.

"Pemilu kemarin itu menurut saya pemilu yang kompleks dan rumit," ujarnya.

Baca juga: Airlangga dan Kang Emil Bertemu, Bahas 2024? Ini Kata Ace Hasan

Dia berharap, Mahkamah Konstitusional (MK) mengabulkan judicial review pemilu lima kotak sura.

Sebab, bukan tak mungkin jika keserentakan pemilu dengan lima kotak suara kembali digelar di 2024, akan lebih banyak lagi menimbulkan korban.

"Saya harapakan banyak orang menjadi terbuka, bagaimana sebenarnya kita sebagai penyelenggara Pemilu ditingkat bawah, Ad Hoc di tingkat bawah, Pemilu ini lebih manusiawi secara aturan maupun secara praktiknya itu harus manusiawi," ucapnya.

"Jangan sampai kita sebagai warga yang menjadi penyelenggara pemilu Ad Hoc dengan niat kita sebagai upaya ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemilu ini. Jangan sampai membahayakan fisik kita, membahayakan kesehatan para pemyelenggara pemilu tingkat bawah ini PPK, PPS dan KPPS itu," pungkasnya.

Penulis: chaerul umam
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas