Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Jenderal Benny Moerdani Bikin Marah Presiden Soeharto di Ruang Biliar

Jenderal Benny Moerdani, berani mengemukakan agar Soeharto mundur menjelang sidang umum 1988, saat Soeharto kuat-kuatnya. Apa akibatnya?

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Febby Mahendra
Editor: cecep burdansyah
zoom-in Jenderal Benny Moerdani Bikin Marah Presiden Soeharto di Ruang Biliar
TribunJabar/ Tribun Style
Kolase Soeharto dan Benny Moerdani. Benny pernah mengingatkan Soeharto menjelang SU MPR 1988 agar tak mencalonkan diri jadi presiden. 

Pada sisi lain Sudomo sebenarnya membela sikap Benny Moerdani. “Memang intelijen harus berani mengemukakan fakta yang sebenarnya, meski yang tidak enak sekalipun…”

Setelah menyampaikan dua hal sensitif tersebut kepada Soeharto, Benny Moerdani mulai merasa bakal terpental dari pemerintahan Orde Baru.

“Setelah mengetahui Pak Harto marah, Benny menemui saya sambil mengatakan dia sudah pasti tidak akan dimasukkan lagi dalam kabinet,” kata Sudomo.

Benny bahkan berani bertaruh dengan Sudomo mengenai nasib kariernya.

“Benny datang sambil bilang, wah Bapakke kethoke nesu banget (Bapaknya kelihatannya sangat marah). Jadi saya pasti sudah selesai, hanya akan sampai di sini,” sambung Sudomo.

Baca juga: Terancam Jiwanya, Mochtar Kusuma-atmadja Dikawal Prajurit Seskoad hingga Bandara

Cerita Jenderal Park Chung-hee

Apakah karier Benny Moedani benar-benar tamat pada saat itu? Ternyata tidak.

Rekomendasi Untuk Anda

Sudomo kemudian melanjutkan kisah unik berikutnya. Setelah Sidang Umum MPR 1988 selesai dan Soeharto terpilih kembali sebagai Presiden RI yang didampingi Wakil Presiden Sudharmono, Sudomo menghadap sang presiden.

Sudomo bermaksud merayu Soeharto agar tidak menyingkirkan begitu saja Benny Moerdani karena dikhawatirkan akan berdampak besar, mengingat pengaruh Benny yang masih begitu kuat di kalangan TNI.

Perwira tinggi TNI AL itu kemudian menyanpaikan sebuah cerita kepada Soeharto.

“Bapak masih ingat nasib Presiden Republik Korea (Korea Selatan), Jenderal Park Chung-hee,” tanya Sudomo.

“Ada apa dengan dia,” jawab Soeharto. “Bapak ingat, karena berselisih pendapat, Jenderal Park kemudian diundang makan oleh bekas kepala intelnya. Mungkin dia (Park) menduga anak buahnya tersebut akan meminta maaf, ternyata Jenderal Park langsung di-doorr…”

Ketika mengutip kisah tersebut Sudomo sama sekali tidak menyebut nama Benny Moerdani.

“Tetapi saya melihat Pak Harto kaget. Sudah pasti, beliau kemudian juga jadi ingat kembali kepada kisah tersebut. Mungkin beliau mulai merasa takut dan berpikir, bagaimana nanti kalau Benny mbambung (menggelandang), nekat karena merasa dikecewakan?” kata Sudomo.

Tiga minggu setelah SU MPR, waktu yang lama untuk menyusun kabinet di masa Orde Baru, susunan Kabinet Pembangunan IV akhirnya diumumkan. Nama Benny Moerdani muncul sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam).

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas