Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Polemik Cat Pesawat Kepresidenan Dinilai Tidak Substantif Karena yang Dipersoalkan Warnanya

Tidak ada yang salah dengan perubahan warna pesawat kepresidenan dari biru menjadi merah putih seperti sekarang ini.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Polemik Cat Pesawat Kepresidenan Dinilai Tidak Substantif Karena yang Dipersoalkan Warnanya
Via Kompas.com
Pesaawat Kepresidenan. (FOTO: JET PHOTOS/Abdiel Ivan Rivandi). 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA -  Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai bahwa perdebatan perubahan warna pesawat kepresidenan BBJ2  terlalu berlebihan dan tidak substansial.

Sebelumnya Ketua Bappilu Demokrat Andi Arif  mempertanyakan maksud perubahan warna pesawat kepresidenan dari Biru menjadi Merah, terlebih warna biru tersebut merupakan hasil desain salah seorang Mayor TNI AU saat itu.

"Polemik atau perdebatan masalah warna ini berlebihan bahkan tidak substansial," kata Karyono kepada Tribunnews.com, Rabu (4/8/2021).

Seharusnya, kata dia, yang diperdebatkan adalah masalah perawatan dan keamanan pesawat kepresidenan bukan warnanya.

Baca juga: Demokrat: Harusnya Bangga SBY Beli Pesawat Kepresidenan Setelah 69 Tahun Tidak Punya

Lagipula menurut Karyono, tidak ada yang salah dengan perubahan warna pesawat kepresidenan dari biru menjadi merah putih seperti sekarang ini.

Warna tersebut kata dia merupakan simbol warna negara Indonesia. 

Seperti negara lain, kata dia,  simbol warna bendera negara diaplikasikan pada pesawat kepresidenannya, misalnya Arab Saudi, Jepang, dan lainnya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Saya sudah melihatnya dan cat pesawat itu merah putih, bukan merah seutuhnya atau dominasi merah," kata dia.

Karyono menilai mengidentikan warna Parpol  dengan pemerintahan atau simbol kenegaraan terlalu berlebihan.

Lagipula, pemerintah Jokowi-Ma'ruf  dan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya merupakan hasil koalisi dari sejumlah partai.

"Saya kira sudah engga zaman lagi menganggap simbol partai dalam sistem kenegaraan," katanya.

Sementara itu terkait dengan anggaran pengecatan pesawat kepresidenan yang mencapai Rp 2 miliar, kata Karyono,  harus ditelusuri lebih jauh.

Apakah anggaran tersebut baru dialokasikan sekarang ini atau dari jauh jauh hari.

Apabila baru dialokasikan pada APBN 2021 sekarang, maka  harus dipertanyakan urgensinya.

Sementara itu apabila sudah dialokasikan sejak jauh-jauh hari, maka pengecatan tersebut merupakan hal yang wajar apalagi disertai dengan perawatan berkala pesawat.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas