Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pemerintah Perlu Antisipasi Tantangan Ekonomi Dua Kuartal ke Depan

Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2021 patut disyukuri.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Pemerintah Perlu Antisipasi Tantangan Ekonomi Dua Kuartal ke Depan
Istimewa
Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah. 

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2021 patut disyukuri.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) ekonomi Indonesia pada kuartal II 2021 mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,07 persen ( y o y) atau 3,31 persen secara q to q.

"Pencapaian ini patut kita syukuri dan memberikan semangat bagi kita untuk memulihkan ekonomi kita yang diterpa pandemi Covid-19," katanya Kamis, (5/8/2021).

Said mengatakan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terlepas dari mulai bergeliatnya sejumlah sektor.

Berdasarkan data BPS, banyak sektor yang tumbuh sebagai dampak kebijakan pemerintah selama kuartal 1 tahun 2021.

Misalnya, kebijakan diskon pajak (PPNBM) sehingga perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya tumbuh sebesar 37, 88 persen (y o y).

Baca juga: PPKM Masih Berjalan, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2021 Perlu Diwaspadai

"Kita juga patut bersyukur sektor primer seperti perikanan dan peternakan tumbuh cukup besar. Perikanan tumbuh 9,69 persen (y o y) dan peternakan tumbuh 7,07 persen (y o y). Industri pengolahan yang menyumbang 19,29 persen PDB juga tumbuh signifikan. Industri pengolahan tumbuh 6,58 persen (y o y)," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu menurutnya, desain APBN 2021 yang melanjutkan kebijakan counter cyclical juga berdampak bagus terhadap sektor konstruksi.

Sektor ini tumbuh besar sebagai dampak dari realisasi belanja pemerintah pada konstruksi yang naik sebesar 50,22 persen pada tahun 2021.

Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan yang terpukul akibat pandemi juga mengalami pertumbuhan.

Sektor ini tumbuh 25,10 persen (y o y), sumbangan terbesarnya adalah pertumbuhan angkutan udara yang mencapai 137,74 persen, dan angkutan rel 67,19 persen.

Baca juga: BPS: Indonesia Keluar dari Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II Melesat 7,07 Persen

Sejalan dengan pertumbuhan sektor transportasi, sektor hotel dan restoran juga tumbuh 21,58 persen (y o y).

Perhotelan tumbuh 45,07 persen dan restoran tumbuh 17,88 persen.

"Dari sisi pengeluaran, kita juga patut bersyukur, khususnya tingkat konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 57 persen PDB keluar dari zona resesi. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,93 persen. Jika pada kuartal sebelumnya masih -2,22%. Bahkan pencapaian konsumsi rumah tangga ini melebih pencapaian disepanjang tahun 2019 dan 2020," katanya.

Meskipun sejumlah sektor mengalami perbaikan, menurut Said, masih banyak tantangan pekerjaan yang harus dibenahi dalam menghadapi dua kuartal ke depan di 2021.

Pertama yakni penerapan PPKM Darurat untuk menekan lonjakan Covid-19 yang berimbas pada pelambatan ekonomi.

Said memprediksi, kebijakan ini berdampak pelambatan ekonomi di kuartal III 2021.

Baca juga: Ketidakpastian Ekonomi Tinggi, IMF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sekitar 3,9 Persen

"Pada kuartal III 2021 saya memperkirakan ekonomi kita akan masuk ke level kontraksi 1,7–2 persen," katanya.

Agar ekonomi Indonesia tidak terkontraksi terlalu dalam di kuartal III, Said meminta pemerintah disiplin mencapai target penurunan Covid-19 dengan kebijakan PPKM ini.

Efektivitas penerapan PPKM harus ditingkatkan sehingga tidak berlangsung lama.

Keberhasilan pengendalian Covid-19 dan tidak diperpanjangnya PPKM, ia memprediksi kuartal IV 2021, pertumbuhan ekonomi bisa kembali ke zona positif pada kisaran 4,7 -5,2 persen.

Tantangan berikutnya kata Politikus PDIP tersebut yakni terkontraksinya sektor pertanian atau pangan sebesar 8,16 persen.
Kondisi tersebut diperparah dengan penyebaran Covid-19 yang terjadi hingga ke desa-desa.

Kondisi ini kata dia akan menimbulkan efek ganda.

Pertama, akses layanan kesehatan di desa tidak sebanyak di kota, yang berakibat tingkat fatalitas akibat Covid-19 lebih tinggi.
Kedua, terganggunya suplai pangan nasional.

"Kedua hal ini perlu segera diantisipasi," katanya.

Selain itu, pemerintah ke depan harus mengefektifkan program bantuan sosial, khususnya untuk keluarga miskin.

Langkah ini untuk mengantisipasi kemungkinan terkontraksinya konsumsi rumah tangga.

Sementara itu untuk lapisan menengah ke atas, pemerintah perlu mendorong kebijakan insentif perpajakan.

"Agar tingkat konsumsi rumah tangga terjaga dengan baik di zona positif pada kuartal berikutnya," ujarnya.

Pemerintah juga kata dia perlu mengantisipasi permasalahan yang dapat mengganggu ekspor/impor, seperti Pungli, kelangkaan peti kemas, serta layanan Customs Excise Information System and Automation (CEISA) pada Ditjen Bea Cukai.

Terakhir kata Said, pemerintah perlu mengantisipasi kebijakan tapering off (pengetatan moneter) yang rencananya akan dilakukan oleh The Fed pada Oktober 2021 mendatang, bila ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan perbaikan.

Pemulihan ekonomi AS ini kata dia mendorong kemungkinan capital outflow pada pasar keuangan Indonesia yang konsekuensinya akan menekan rupiah.

"Semoga momentum pertumbuhan ekonomi kita disepanjang tahun 2021 dapat bertahan pada kisaran 3,3-3,8 persen dengan mempertimbangkan segala tantangan yang akan kita hadapi pada dua kuartal mendatang," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas