Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Kemendikbudristek: Penduduk Buta Aksara Mengalami Penurunan

Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek Jumeri mengatakan angka buta aksara di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya.

Kemendikbudristek: Penduduk Buta Aksara Mengalami Penurunan
TRIBUN SUMSEL/TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
ilustrasi: Suasana Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SMA N 8, Palembang, Rabu (1/9/2021). Pembelajaran tatap muka ini dengan protokol kesehatan yang ketat dan siswa yang masuk hanya 25 persen dari jumlah siswa disetiap kelas dan 75 persen siswa masih belajar daring. Siswa diatur secara bergantian untuk masuk sekolah setiap harinya.TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek Jumeri mengatakan angka buta aksara di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, persentase dan jumlah penduduk buta aksara telah mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Fraksi PPP Dorong Pemerintah Anggarkan Dana Abadi Pesantren 

“Persentase buta aksara tahun 2019 sebanyak 1,78 persen atau 3.081.136 orang, dan pada tahun 2020 turun menjadi 1,71 persen, atau menjadi 2.961.060 orang," ujar Jumeri melalui keterangan tertulis, Senin (6/9/2021).

Jumeri mengatakan pihaknya melakukan peningkatan mutu layanan pendidikan dan pembelajaran keaksaraan pada daerah tertinggi persentase buta aksaranya.

Langkah ini dilakukan untuk mendorong percepatan penuntasan buta aksara di Indonesia dengan capaian angka melek aksara untuk usia 15-59 tahun di atas 98 persen.

Baca juga: Tiba di Jepang, Menhub Budi akan Bertemu Pejabat Bahas Percepatan Proyek Infrastruktur Transportasi

Kemdikbudristek melakukan pemberantasan buta aksara dengan sistem blok atau klaster, yaitu memusatkan program di kabupaten terpadat buta aksara pada lima provinsi yang tinggi buta aksaranya.

Lima provinsi tersebut, adalah Papua (22,03 persen), Nusa Tenggara Barat (7,52 persen), Sulawesi Barat (4,46 persen), Nusa Tenggara Timur (4,24 persen), dan Sulawesi Selatan (4,11 persen).

Bagi wilayah yang memiliki kekhususan, Kemendikbudristek juga menggulirkan program-program keaksaraan dengan memperhatikan kondisi daerah dan kearifan budaya lokal, seperti program Keaksaraan Dasar bagi Komunitas Adat Terpencil/Khusus.

Baca juga: Festival Kuliner Blibli Pecahkan Rekor MURI, Libatkan 3.190 UMKM

"Hal ini sebagai upaya untuk menjangkau yang tak terjangkau," ucap Jumeri.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas