Tribun

Menko PMK: Praktik Korupsi Belum Sampai Titik Rendah 

Korupsi dalam penyelenggaraan negara merupakan cermin buruknya sikap mental suatu bangsa, praktik korupsi di Indonesia belum capai titik yang rendah.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Theresia Felisiani
zoom-in Menko PMK: Praktik Korupsi Belum Sampai Titik Rendah 
net
ilustrasi korupsi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan praktik-praktik korupsi dalam penyelenggaraan negara merupakan cermin buruknya sikap mental yang dimiliki suatu bangsa.

Dirinya mengaku praktik korupsi di Indonesia belum mencapai titik yang rendah. 

"Harus diakui praktik-praktik korupsi di kita belum mencapai titik yang rendah. Dalam penanganannya juga belum optimal, bahkan sulit dipetakan dan sulit diurai. Tentu saja ini bukan keputusan mudah untuk berkomitmen dalam memajukan bangsa," ujar Muhadjir melalui keterangan tertulis, Rabu (15/9/2021).

Baca juga: Kekayaan Jokowi di LHKPN Naik Jadi 63 Miliar Tapi Motor Chopper ’Hilang’ dari Garasinya

Muhadjir mengatakan cita-cita luhur Bangsa Indonesia tidak akan tercapai jika praktik korupsi dibiarkan bergerak liar tanpa ada penekanan dan tanpa ada gerakan untuk membasmi.

"Sekali lagi, praktik korupsi ini adalah mental terburuk di dalam diri bangsa kita yang harus betul-betul direvolusi mental. Itu kalau kita ingin menjadi bangsa yang unggul, bersih, dan tentu saja mendapatkan pengakuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa," ucap Muhadjir. 

Perguruan tinggi, kata Muhadjir, memiliki peranan besar terutama di dalam menanamkan sikap mental yang berintegritas, memiliki semangat kebangsaan bagi setiap mahasiswa. 

Para mahasiswa, menurutnya, akan menjadi generasi pemimpin bangsa.

Baca juga: Kapolri Didesak Jelaskan Penangkapan Warga dan Mahasiswa Bentangkan Spanduk saat Kunker Jokowi

Muhadjir mengungkapkan untuk menjadi pemimpin yang dapat berpikir jernih harus kenyang terlebih dahulu secara mental.

Dalam arti, bukan kenyang secara perut melainkan sikap mental yang tidak rakus, sikap mental yang menerima apa adanya, sikap mental bisa menempatkan diri dengan baik, dan sikap mental mensyukuri apa yang didapat.

“Itulah ciri-ciri orang yang sudah kenyang secara mental. Segala sesuatu yang bersifat duniawi belum tentu membuat seseorang kenyang secara mental. Bisa jadi orang yang kekayaannya sudah ratusan miliar, uang triliunan, masih melakukan korupsi. Itu sebetulnya tanda dia orang yang belum kenyang secara mental,” kata Muhadjir. 

Baca juga: Emerson Yuntho Minta Presiden Jokowi hingga Kapolri Benahi Pungli di Samsat dan Satpas

Dengan demikian, tantangan ke depan bangsa Indonesia adalah menanamkan sikap mental kepada generasi penerus bangsa.

Tidak ada artinya pengetahuan apapun yang dimiliki mahasiswa, kemampuan teknologi yang didapat, kecuali diperkuat dengan integritas, kejujuran, kerja keras. 

Meski di samping itu, tutur Muhadjir, pemimpin masa depan juga harus memiliki etos kerja yang tinggi, tangguh, dan kreatif.

Semakin banyak kreatifitas diciptakan oleh bangsa ini maka Indonesia akan menjadi negara yang semakin unggul dan memiliki daya saing.

“Kunci dari persaingan salah satunya adalah tingginya kreatifitas untuk merespon tantangan baru. Hal inilah yang kemudian menjadikan beban mahasiswa kita ke depan akan jauh lebih berat dengan tantangan yang semakin kompleks,” pungkas Muhadjir. 

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas