Tribun

Virus Corona

Cegah Klaster di Sekolah, Pemerintah Lakukan Random Tes Covid-19

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin merespons kekhawatirkan munculnya klaster Covid-19 di sekolah.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Malvyandie Haryadi
Cegah Klaster di Sekolah, Pemerintah Lakukan Random Tes Covid-19
Youtube Sekretariat Presiden
Menkes Budi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin merespons kekhawatirkan munculnya klaster Covid-19 di sekolah.

Untuk itu pihaknya menyiapkan sejumlah  strategi dalam mengantisipasi hal itu.

"Dari sisi protokol kesehatan kami mengawal terus proses pendidikan tatap muka, karena kami juga percaya bahwa seluruh murid-murid Indonesia harus belajar secepat mungkin agar kita tidak kehilangan kesempatan untuk mereka meningkatkan pengetahuan mereka langsung dengan guru-guru mereka," ujar Budi dalam konferensi pers virtual Perpanjangan PPKM, Senin (4/10/2021).

Sebagai upaya, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemebdikbudrestek) menyusun metode surveilens dan protokol kesehatan yang baik.

"Kami sudah menyusun metode aktiv surveilens untuk sekolah-sekolah yang melakukan tatap muka dengan prinsip 10 persen dari sekolah yang tatap muka di satu kabupaten atau kota akan kita lakukan random surveilans. Dari situ  kemudian kita bagi secara proporsi ke kecamatan-kecamatan yang ada di kabupaten kota tersebut," ujar mantan dirut Bank Mandiri ini.

Baca juga: Aturan Vaksinasi Baru, Kemenkes: Ini untuk Pantauan Tingkat Keparahan, Risiko dan Dampak Covid-19

Kemudian, dari sekolah itu maka diambil 30 sampel untuk murid dan 3 untuk guru.

"Dan hasil yang sudah kita lakukan Minggu lalu dengan Jakarta. Memang kita temui masih adanya positivity rate dari pelajar-pelajar yang ada di sekolah-sekolah Jakarta," ungkap Budi.

Setelah dilakukan testing baik murid dan guru maka bisa ditentukan angka positivity rate dari satu sekolah itu.

Jika di atas 5 persen maka sekolah tutup sementara selama dua minggu sambil perbaiki protokol kesehatan.

"Kemudian kita mulai lagi sekolahnya," ucapnya.

Jika positivity rate-nya antara 1 sampai 5 persen, maka diminta satu kelas yang ada murid atau gurunya positif untuk menjalani karantina.

"Sedangkan kelas lainnya bisa tetap belajar tatap muka. Sementara kalau positif rate-nya di bawah 1 persen kita pergunakan metode surveilans seperti biasa yaitu yang positif atau terkonfirmasi dan kontak eratnya dikarantina," jelas Budi.

Diharapkan dengan menjalankan disiplin seperti ini bisa mengidentifikasi atau mensurvei secara dini jika ada pelajar-pelajar yang positif dan tidak perlu menunggu sampai menjadi besar sehingga harus menutup seluruh kota 

"Jadi hasilnya sudah ada di Jakarta memang ada yang positif dan kami terus bekerja sama dengan kementerian pendidikan bisa meningkatkan kualitas surveilans ini," tutur Budi.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas