Tribun

Ketua KPK: Santri Diperlukan dalam Perang Badar Lawan Perilaku Koruptif

Sosok santri dan semangat antikorupsi diperlukan dalam Perang Badar melawan perilaku koruptif warisan kolonialisme dan imperialisme.

Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Hasanudin Aco

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di Hari Santri Nasional yang jatuh pada hari ini, Jumat (22/10/2021), Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengatakan bahwa sosok santri dan semangat antikorupsi diperlukan dalam Perang Badar melawan perilaku koruptif warisan kolonialisme dan imperialisme.

"Saya tekankan, negeri ini membutuhkan anak-anak bangsa yang memiliki jiwa, raga, semangat fisabilillah dan ruh seorang santri dalam perang badar melawan korupsi dan perilaku koruptif di negeri ini," kata Firli dalam keterangannya, Jumat (22/10/2021).

Dia berkata, bangsa Indonesia pernah melalui masa sulit atas kehadiran kolonial dan menghadapi imperator.

Yang tak kalah jahat dari kolonialisme itu sendiri, lanjutnya, adalah penanaman sistematis perilaku koruptif yang membudaya dan menjadi norma di nusantara, dan hingga kini masih dicontoh.

"Bagaimana kesetiaan terhadap tuan-tuan tanah dan penguasa-penguasa harus dibuktikan dari pemberian hadiah dan pembagian hasil yang tak adil," katanya.

Baca juga: Peringati Hari Santri, NU Care-LAZISNU dan Bank Mega Syariah Salurkan Bantuan Pendidikan

Menurut Firli, sistem tersebut memiskinkan rakyat, hanya sekelompok orang yang berkomplot dengan kolonial dan imperator bisa hidup layak.

"Perilaku kolonial dan imperator tak berbeda dengan komplotan koruptor yang rakus dan mencuri hak rakyat, sehingga tak peduli pada kehidupan orang lain," kata dia.

Firli menyebut, Hari Santri Nasional yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2015 lalu, adalah bentuk penghargaan tak terhingga, penghormatan dan pengakuan segenap bangsa dan negara atas peran serta aktif luar biasa para santri seluruh Indonesia yang dipimpin KH Hasyim As’ari setengah abad lalu, tepatnya 22 Oktober 1945, yang menyerukan revolusi jihad.

"Isi dari revolusi jihad tersebut adalah pernyataan bahwa berjuang demi kemerdekaan Indonesia hukumnya Fardhu’ Ain atau wajib bagi seluruh bangsa dan rakyat Indonesia," ujarnya.

"Setelah kemerdekaan dapat direngkuh, peran serta santri sebagai motor pergerakan dan kemajuan bangsa tetap dibutuhkan untuk menjaga serta mengakselerasi tercapainya cita-cita dan tujuan didirikannya republik ini," imbuh Firli.

Sosok sederhana, santun, berintegritas, menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, moral, etika dan kejujuran yang kental pada diri seorang santri, kata Firli, sangat diharapkan ada dalam setiap elemen dan eksponen bangsa Indonesia.

Gunanya untuk menghadapi, melewati sekaligus menyelesaikan ragam persoalan besar bangsa, salah satunya korupsi dan perilaku koruptif yang telah berurat akar di NKRI.

"Perilaku koruptif yang telah lama menjajah negeri ini, bukan hanya akan merugikan perekonomian atau keuangan negara semata, dampak destruktif kejahatan kemanusiaan ini dapat merusak hingga meluluh lantakkan setiap sendi tatanan kehidupan bangsa dan negara," kata Firli.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas