Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Doni Monardo Bicara Blue Economy dan Intelijen Perikanan kepada Siswa PPRA Lemhannas

Doni mengatakan bahwa potensi perikanan Indonesia adalah 12 juta ton per tahun

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Erik S
zoom-in Doni Monardo Bicara Blue Economy dan Intelijen Perikanan kepada Siswa PPRA Lemhannas
Istimewa
Ketua Umum PP PPAD LetjenTNI Purn Doni Monardo saat menerima para siswa Program Pendidikan Reguler (PPRA) 62 Lemhannas markas PPAD, Jl. Matraman, Jakarta Timur, Senin (4/4/2022). 

Doni mengatakan, berkat budidaya emas biru, Jefri bisa menyekolahkan anak sampai kuliah di fakultas kedokteran di Unpati, sebentar lagi bakal jadi dokter. Ia juga memiliki usaha kontrakan. Ekonomi keluarga jauh membaik.

Baca juga: Sudah Dikapling 6 Zona, Investor Asing Diajak Garap Sektor Perikanan Indonesia

“Saya masih pertahankan emas biru warisan bapak jenderal Doni Monardo. Sudah selama ini banyak melatih dan mendidik kawan-kawan nelayan budidaya di Maluku dan Maluku Utara,” katanya.

Jefri bukanlah contoh sukses instan. Ia mengawali tahun 2009 melalui perjuangan ekstra keras. Dimulai dari memulung botol-botol plastik yang ada di teluk Ambon. Selama empat bulan ia berhasil mengumpulkan 32.000 botol air kemasan. Botol-botol itulah yang ia jadikan keramba jaring apung.

Dalam perkembangannya, ia bisa meningkatkan kondisi keramba dengan membeli keramba bekas. Dan saat ini, ia sudah bisa memperluas keramba miliknya dengan jaringan keramba yang baru. Bukti bahwa usaha budidaya emas biru-nya berhasil.

“Restoran apung ini juga semakin viral dan mendatangkan penghasilan tambahan,” katanya senang.

Resto apung di keramba itu dibangun tanggal 28 Maret 2021. Belakangan, makin viral setelah seseorang menayangkan di youtube. Mereka secara khusus datang ke kerambanya dan membuat konten yang viral. Belum lagi para pengunjung resto apung yang lain.

“Mereka ada yang datang dari Jakarta, Bandung, bahkan Surabaya,” kata Jefri bangga.

Rekomendasi Untuk Anda

Mereka secara khusus datang ke Teluk Ambon untuk bisa makan di resto apung keramba milik Jefri karena aneka ikan seperti ikan kerapu, kakap, bobara, udang, cumi, kepiting, lobster yang segar.

“Makan seafood di sini sangat segar, karena langsung kami ambilkan dari keramba, bukan seafood yang disimpan di freezer berminggu-minggu,” katanya.

Untuk memberi suasana lain, Jefri yang mengikuti pertemuan melalui zoom, diminta Doni menunjukkan keramba dengan kamera HP-nya. Jefri juga diminta memperlihatkan ikan-ikan yang ada di kerambanya, serta koleksi lobster yang ada.

“Siapa tahu nanti para peserta PPRA 62 ke Ambon, bisa mampir dan makan di keramba jaring apung milik Jefri,” kata Doni sambil tertawa.

Sosok lain yang diminta Doni berbicara di hadapan para siswa Lemhannas adalah Achmad Jais, Kepala Sekolah Usaha Perikanan Menengah, Waiheru, Ambon.

“Hingga hari ini, kampus kami tetaplah bernama kampus emas biru. Sebab, sejak pak Doni datang, teluk Ambon menjadi ujung tombak emas biru. SUPM ini adalah sekolah gratis yang sudah secara nyata meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Jais bangga, sebab SUPM pernah didatangi Presiden, Wakil Presiden dan sedikitnya 17 orang menteri. Itu semua karena program “emas biru”. Ada aktivitas budidaya keramba jaring apung, pembibitan yang disumbang kementerian KKP untuk diteruskan kepada masyarakat, serta aktivitas pemberdayaan masyarakat.

“Sungguh contoh yang baik tentang kolaborasi antara institusi pendidikan dengan instansi pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” katanya.

Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas