Tribun

Hasto Bicara soal Nilai Kemanusiaan dari Peristiwa Tsunami hingga Keterbukaan Aceh

Hasto mengatakan itu usai meninggalkan Tugu Kilometer Nol, berbelanja di sana, dan lalu bersilaturahmi dengan kader PDIP di Sabang

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Daryono
zoom-in Hasto Bicara soal Nilai Kemanusiaan dari Peristiwa Tsunami hingga Keterbukaan Aceh
Fersianus Waku
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto di kantor Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (22/9/2022) - Hasto bicara soal nilai kemanusiaan dari peristiwa tsunami hingga keterbukaan Aceh 

TRIBUNNEWS.C0M, JAKARTA - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Dr. Hasto Kristiyanto mengatakan pihaknya akan mewajibkan para kader partainya yang menjabat sebagai kepala daerah untuk menginjakkan kaki di Kilometer Nol di Sabang, Provinsi Aceh.

Hasto mengatakan itu usai meninggalkan Tugu Kilometer Nol, berbelanja di sana, dan lalu bersilaturahmi dengan kader PDIP di Sabang serta tokoh masyarakat setempat di Kota Sabang, Jumat (23/9/2022) malam.

"Dari Kilometer Nol inilah kita merasakan langsung Indonesia Raya kita. Banyak pejabat dan elite yang melihat Indonesia hanya dari peta saja. Tanpa merasakan langsung wilayah Indonesia kita yang luar biasa. Belum lagi sejarah peradabannya, karya kebudayaannya."

"Maka Indonesia adalah satu kesatuan kebudayaan yang satu jiwa. Makanya Bung Karno menyebut Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke, yang mencerminkan tekad dan satu kesadaran sosial bagi kepeloporan Indonesia bagi dunia," ujar Hasto.

"Maka itu kami akan wajibkan kepala daerah dari PDI Perjuangan harus menginjakkan kaki ke titik Kilometer Nol di Sabang ini dan juga di Merauke, Papua," tambahnya.

Baca juga: Hasto Tegaskan Tak Ada Kubu-kubuan di PDI Perjuangan: Kami Tegak Lurus

Hasto juga berbicara mengenai kesadaran yang muncul dari peristiwa tsunami Aceh di tahun 2004.

Saat itu, hampir seluruh negara di dunia datang dan memberikan bantuan ke Aceh.

Bahkan saat itu Aceh terlihat menjadi bukan hanya milik Indonesia, namun milik dunia. Karena mengalir bantuan dari seluruh dunia.

"Semua membantu tanpa membedakan di Aceh ini apa suku dan agamanya, tapi murni karena kemanusiaan. Begitupun Aceh menerima bantuan itu tanpa melihat apa agama dan suku bangsa yang memberikan bantuan. Maka tsunami membuka pemahaman bahwa nilai kemanusiaan bekerja. Ini harus membuka kesadaran bahwa kita harus membuka diri. Tentu yang datang harus sesuaikan dengan kebiasaan sini, kultur disini? tapi dari kita juga harus membuka diri," urai Hasto.

Hasto lalu memberi contoh bagaimana Jepang membangun sebuah universitas dan memberikan beasiswa bagi warga negara yang membantu mereka saat terjadi bencana akibat tsunami yang ikut merusakkan reaktor nuklir Fukushima.

Halaman
12
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas