Tribun

Dihantui Resesi Global, Jokowi: Kita Tidak Tahu Badai Besarnya Seperti Apa

Kata Jokowi, kondisi tersebut memicu sejumlah krisis mulai dari krisis pangan, energi, hingga krisis keuangan, termasuk ancaman resesi global.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Dihantui Resesi Global, Jokowi: Kita Tidak Tahu Badai Besarnya Seperti Apa
Tribunnews.com/Taufik Islam
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan arahan kepada seluruh pemimpin lembaga negara, kepala daerah, dan pimpinan sejumlah BUMN di Jakarta Convention Center, Kamis (29/9/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengingatkan jajaranya mengenai situasi global yang penuh dengan ketidakpastian.

Kondisi tersebut memicu sejumlah krisis mulai dari krisis pangan, energi, hingga krisis keuangan, termasuk ancaman resesi global.

“Hati hati ketidakpastian ini, mengenai ketidakpastian ini, dan tiap hari kita selalu diingatkan dan kalau kita baca baik di media sosial di media cetak, di media online semuanya mengenai resesi global, tahun ini sulit dan tahun depan sekali lagi saya sampaikan akan gelap, dan kita tidak tahu badai besarnya seperti apa, sekuat apa tidak bisa dikalkulasi,” kata Presiden saat memberikan arahan kepada pemimpin lembaga, Kepala Daerah, Pangdam, Kapolda, dan pimpinan sejumlah BUMN di Jakarta Convention Center, Kamis, (29/9/2022).

Untuk krisis pangan, saat ini 345 juta orang di 82 negara menderita kekurangan pangan akut.

Baca juga: Krisis Ekonomi Mulai Melanda Inggris, Anak Sekolah Kehabisan Makanan, Para Wanita Terpaksa Jadi PSK

Selain itu kata Presiden yang mengenaskan 19.700 orang setiap hari meninggal karena kelaparan.

Sementara itu untuk krisis energi telah menyebabkan harganya melonjak.

Pemerintah Indonesia kata Presiden telah menaikan harga BBM. Tidak hanya Indonesia negara lain juga melakukan hal yang sama.

“Kita baru sesuaikan harga BBM tapi coba dibandingkan dengan negara-negara lain harga sampai 32 ribu, 30 ribu, 24 ribu, gas bisa naik sampai 500 persen, kondisi-kondisi seperti ini yang harus kita tahu,” kata Presiden.

Selain itu krisis keuangan juga terjadi di sejumlah negara, salah satunya Inggris.

Baca juga: Bank Pembangunan Asia Siap Beri Bantuan untuk Atasi Krisis Ekonomi Sri Lanka

Krisis keuangan menyebabkan nilai tukar mata uang di semua negara goncang dan terdepresiasi termasuk Indonesia.

Presiden mengatakan momok terbesar semua negara sekarang ini adalah inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa. Negara yang inflasi setiap tahunnya hanya 1 persen kini bisa mencapai 8 persen. Bahkan ada 5 negara yang inflasinya mencapai 80 persen.

“Oleh sebab itu kita harus kompak! harus bersatu dari pusat provinsi kabupaten kota sampai ke bawah, dan semua kementerian lembaga seperti saat kita kemarin menangani Covid, kalau Covid bisa bersama-sama, urusan inflasi ini kita juga harus bersama-sama, setuju?” Kata Presiden.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas