Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Serukan Pertemuan G20 Jadi Ruang Dialog, AHY: Kita Ingin, Persatuan, Perdamaian dan Kestabilan

(AHY) berharap pertemuan puncak G20 di Bali pertengahan November nanti bisa menjadi ajang dialog yang substantif bagi para pemimpin negara yang hadir.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Serukan Pertemuan G20 Jadi Ruang Dialog, AHY: Kita Ingin, Persatuan, Perdamaian dan Kestabilan
Tribunnews.com/Chaerul Umam
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif lembaga kajian (think tank) The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berharap pertemuan puncak G20 di Bali pertengahan November nanti bisa menjadi ajang dialog yang substantif bagi para pemimpin negara yang hadir.

"Indonesia dan para anggota G20 lainnya harus mengirimkan pesan yang lebih jernih dan lantang pada dunia bahwa kita menginginkan perdamaian dan stabilitas. Karena itu kita harus bersatu," kata AHY dalam sambutan penutup Roundtable Discussion bertema 'Geo Politik & Keamanan Internasional, Ekonomi Global, dan Krisis Perubahan Iklim' di Jakarta (13/10/2022). 

Forum ini diselenggarakan bersama oleh TYI Indonesia dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Forum diskusi yang dihadiri 19 pembicara dari kedua negara, dengan berbagai latar belakang profesi itu, menyimpulkan bahwa ada tiga masalah utama yang sekarang dihadapi dunia, dan juga berdampak pada kawasan Asia Tenggara.

Pertama, kata AHY, adalah ketidakpastian stabilitas keamanan global.

"Pasca pandemi Covid-19, saat dunia sedang membutuhkan spirit persatuan dan kebersamaan untuk bangkit kembali, perang Rusia - Ukraina justru memperburuk kondisi dunia," tegas AHY.

"Dividen perdamaian selama 30 tahun pasca perang dingin tampaknya sudah berlalu."

Rekomendasi Untuk Anda

Merujuk pada pengalamannya sebagai perwira operasi pada Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Libanon (UNIFIL), AHY mengingatkan  jika ketegangan antar kekuatan tidak dimitigasi dengan baik, miskalkulasi, kesalahan taktikal di lapangan berpotensi mendorong erratic leaders (pemimpin yang tidak terkendali) mengambil langkah-langkah spekulatif yang destruktif. 

"Jangan anggap remeh ancaman penggunaan nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya," katanya.

Kedua, tekanan ekonomi dan ancaman resesi global.

AHY mengingatkan, "Jika keamanan global masih belum membaik, lalu berdampak serius pada pasokan gas alam ke negara-negara Eropa, maka ancaman resesi dan krisis energi global akan membayangi ekonomi dunia. Di saat itu, kita semua, bangsa Indonesia,  harus bersiap-siap menghadapi tubulensi ekonomi yang lebih berat di tahun 2023 mendatang. Jika nilai tukar Rupiah  kian melemah, maka tanggungan bunga dan cicilan utang negara akan semakin berat."

AHY kembali menekankan soal pentingnya menetapkan prioritas pembangunan yang benar, ”Dalam kondisi ekonomi negara yang lemah saat ini, kemampuan negara negara berkembang untuk membayar utang menjadi semakin terbatas. Apalagi kalau bunga utangnya sangat tinggi. Ruang fiskal menjadi kian terbatas. Kita harus bijak menentukan agenda pembangunan nasional. Jangan sampai kebangkrutan nasional seperti yang dialami Sri Lanka terulang."

Baca juga: AHY: Ajang G20 Jangan Hanya Jadi Gimik Politik

Ketiga, komitmen untuk mengatasi perubahan iklim yang melemah.

"Krisis perubahan iklim kian memburuk. Ini berpotensi mempengaruhi 10 persen nilai total ekonomi dunia pada tahun 2050. Yang paling terdampak adalah negara-negara Asia karena bertumpu pada agrikultur. Jika kita tidak melakukan apa-apa, ini akan mengurangi 18 persen nilai ekonomi kita. Tetapi jika kita melakukan sesuatu, itu hanya akan mempengaruhi 4 persen," tegas AHY.

"Langkah-langkah dekarbonisasi melalui inovasi teknologi dan promosi energi alternatif seperti tenaga surya dan mobil elektrik patut dipertimbangkan. Negara dan sektor swasta harus bersinergi dan berkolaborasi untuk mengambil peran itu bersama-sama," pesan AHY.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas