Tribun

Danpushidrosal Jamin KRI Dewa Kembar Bakal Jadi Andalan Untuk Survei Laut Dalam Mulai Tahun Depan

Nurhidayat menjamin KRI Dewa Kembar (932) yang saat ini sedang dalam perbaikan akan menjadi andalan untuk survei di wilayah perairan laut dalam

Penulis: Gita Irawan
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Danpushidrosal Jamin KRI Dewa Kembar Bakal Jadi Andalan Untuk Survei Laut Dalam Mulai Tahun Depan
Tribunnews.com/Gita Irawan
Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Nurhidayat di Mako Pushidrosal Ancol Jakarta Utara pada Kamis (1/12/2022). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Nurhidayat menjamin KRI Dewa Kembar (932) yang saat ini sedang dalam perbaikan akan menjadi andalan untuk survei di wilayah perairan laut dalam di Indonesia.

Nurhidayat mengatakan rencananya kapal survei tersebut akan dilengkapi dengan alat yang mampu memetakan hingga kedalaman delapan ribu meter di bawah permukaan laut.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono, kata dia, telah menyanggupi pembelian alat tersebut melalui Kementerian Pertahanan.

KRI Dewa Kembar (932), lanjut dia, juga telah siap dipasangi alat tersebut.

Ia berharap di awal tahun depan alat tersebut sudah bisa terpasang.

"Sehingga saya bisa menjamin istilahnya tahun depan Dewa Kembar menjadi andalan kita untuk deep water, yang lebih dalam lagi," kata Nurhidayat di Mako Pushidrosal Ancol Jakarta Utara pada Kamis (1/12/2022).

"Dan kita memang harus kerja banyak di deep water karena daerah kita di wilayah timur itu misteri, penuh dengan misteri, khususnya bagaimana kita bisa menguak dasar lautnya, supaya nitigasi bencananya benar. Karena yang penting itu," sambung dia.

Nurhidayat mengatakan dalam perbaikan saat ini desain KRI Dew Kembar tidak diubah.

Namun demikian, kata dia, terdapat sedikit modifikasi di bagian dalam kapal.

Modifikasi tersebut, kata dia, untuk mengakomodir lebih banyak peneliti dibandingkan dengan ruangan yang dimiliki kapal survei lainnya yakni KRI Spica dan KRI Rigel.

Ia mengatakan hal tersebut dimungkinkan karena ukuran KRI Dewa Kembar yang memang lebih besar.

"Kalau ini, kapalnya cukup besar, jadi ruang operasi, tempatnya komputer-komputer untuk membuat rekayasa, membuat hasilnya ini menjadi baik, itu dalam sebuah ruang operasi yang di sebelahnya adalah ruangnya para peneliti," kata dia.

"Dijadikan bersebelahan supaya pada saat kita melaksanakan operasi itu 24 jam kerja. Penelitinya bisa gantian, kita juga yang melaksanakan operasi di kapal juga gantian," sambung dia.

Menurutnya, kemampuan KRI Dewa Kembar tersebut nantinya akan dibutuhkan di antaranya untuk melakukan survei di laut dalam misalnya untuk melihat gunung-gunung bawah laut.

Dari kolaborasi bersama dengan kementerian dan lembaga lainnya, ia berharap hasil survei yang dilakukan di antaranya dapat digunakan untuk mengukur potensi-potensi bencana yang mungkin diakibatkan oleh gunung ataupun struktur di laut dalam.

Baca juga: KSAL Apresiasi Ekspedisi Jala Citra “Aurora” 2021 yang Digelar Pushidrosal

"Sehingga kita jauh-jauh hari, pertama kita sebagai penanggung jawab batimetri kita harus menyampaikan datanya dengan benar, kemudian instansi lain yang berkompeten pada bidangnya kita sampaikan datanya. Itulah sebuah kolaborasi yang kita inginkan," kata dia.

"Jadi harapan saya mudah-mudahan Dewa Kembar bisa di 8 ribu, 10 ribu kita bisa," sambung dia.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas