Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

KGPAA Hamangkunegoro Tulis Penyesalan Gabung ke Republik, Kritik Pemerintah?

KGPAA Hamangkunegoro mengungkapkan penyesalannya bergabung dengan Republik, ia juga menyinggung soal kebohongan dan tagar Indonesia Gelap

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in KGPAA Hamangkunegoro Tulis Penyesalan Gabung ke Republik, Kritik Pemerintah?
TribunSolo.com/Chrysnha Pradipha
KERATON SOLO - Kori Kamandungan Lor, Keraton Solo. Difoto Senin (31/7/2017) siang. KGPAA Hamangkunegoro, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah mengunggah pernyataan kontroversial di Instagram Story yang membahas soal penyesalan bergabung ke Republik Indonesia. (TribunSolo.com/Chrysnha Pradipha) 

TRIBUNNEWS.COM - Putra Mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPAA Hamangkunegoro, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah mengunggah pernyataan kontroversial di Instagram Story.

Dalam unggahannya, ia menulis kalimat penyesalan telah bergabung ke Republik Indonesia.

"Nyesel gabung Republik," demikian unggahan tersebut.

KGPAA Hamangkunegoro juga melemparkan kalimat sindiran, "Percuma Republik Kalau Cuma Untuk Membohongi."

Unggahan tersebut bahkan dibubuhi tulisan tanda pagar (tagar) #IndonesiaGelap.

Tentu hal ini langsung mengundang perhatian luas di media sosial.

Alasan di Balik Pernyataan

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari KGPAA Hamangkunegoro mengenai alasan kritik tersebut disampaikan.

Rekomendasi Untuk Anda

Pihak-pihak terkait dilingkungan Keraton Solo juga belum merespons pertanyaan awak media.

Berbagai spekulasi publik pun muncul berseliweran.

Mereka mempertanyakan apakah pernyataan itu berhubungan dengan kebijakan pemerintah atau masalah anggaran pemeliharaan Keraton Solo.

Baca juga: Kasus Tabrak Lari yang Libatkan Putra Mahkota Keraton Solo Berakhir Damai

Masalah Dana Pemeliharaan Keraton

Jauh sebelum pernyataan KGPAA Hamangkunegoro itu disampaikan di media sosial, adik raja Keraton Surakarta, GKR Wandansari Koesmurtiyah alias Gusti Moeng, pernah mengungkapkan masalah terkait dana pemeliharaan Keraton Solo.

Dalam wawancaranya dengan TribunSolo.com, Moeng menyatakan bahwa pemerintah daerah memberikan subsidi sebesar Rp 13 miliar per tahun untuk pemeliharaan keraton.

Namun, dana tersebut dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional keraton.

“Untuk gaji abdi dalem dan menggelar upacara adat saja, Keraton Solo harus mengeluarkan biaya miliaran rupiah,” ujar Moeng, Jumat (9/8/2024).

Moeng menjelaskan bahwa dana Rp 13 miliar hanya dapat digunakan untuk dua sektor pemeliharaan keraton.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas