Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dilaporkan ke Komnas HAM, Dedi Mulyadi Siap Hadapi Risiko Demi Masa Depan Jawa Barat

Dedi Mulyadi soal kabar dirinya dilaporkan ke Komnas HAM, ia menilai hal itu adalah bagian dari risiko yang harus dihadapi demi masa depan anak-anak

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Dilaporkan ke Komnas HAM, Dedi Mulyadi Siap Hadapi Risiko Demi Masa Depan Jawa Barat
TribunJabar.id/Dian Herdiansyah
BARAK MILITER - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat diwawancarai di Gedung DPRD Kota Sukabumi, Kamis (10/4/2025). Dedi Mulyadi kini dilaporkan ke Komnas HAM setelah program pelatihan wajib militer untuk anak berperilaku khusus, menjadi sorotan publik. 

Dengan tangan terbuka, Dedi Mulyadi menyatakan akan menerima uluran tangan pihak terkait, jika rumah, yayasan, lembaga pendidikan, maupun kantor pengacara pihak tersebut, bisa digunakan untuk tempat pendidikan anak-anak berperilaku khusus, atau berperilaku istimewa tersebut. 

"(Pihak terkait) Yang tinggal di Depok selesaikan (permasalahan anak berperilaku khusus) di Depok, yang tinggal di Bekasi selesaikan yang di Bekasi, yang tinggal di Kota Bandung selesaikan yang di Kota Bandung. Tugas akan selesai manakala ditanggung secara bersama," tegas Dedi Mulyadi.

Pergub Disiapkan

Menindaklanjuti program ini, Dedi Mulyadi menyebut akan membuat peraturan gubernur (Pergub) untuk memperkuat aturan soal pengiriman siswa nakal ke barak militer.

Sebelumnya, surat edaran sudah diterbitkan dan disampaikan kepada seluruh kepala daerah di Jawa Barat.

“Sudah ada surat edaran yang disampaikan ke bupati/wali kota di seluruh Jawa Barat. Surat edaran gubernur sudah ada,” ujar Dedi Mulyadi Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Menurutnya, kepala daerah tidak bisa tinggal diam terhadap maraknya aksi kekerasan yang melibatkan pelajar.

Dedi Mulyadi pun berharap program ini bisa diikuti seluruh kepala daerah di Jawa Barat.

Rekomendasi Untuk Anda

“Ya konsekuensinya kan gubernur punya piranti-piranti. Kami punya akses anggaran terhadap kabupaten/kota yang kita miliki,” kata Dedi Mulyadi.

Kendati demikian, Dedi Mulyadi membantah jika pergub ini disebut sebagai bentuk ancaman.

“Kami bukan mengancam ya. Kami, kan gini, apakah bupati masih nyaman kalau di depan kantornya banyak orang bawa celurit? Kan nanti mereka yang merasakan."

“Apakah bupati masih nyaman kalau setiap minggu ada yang masuk rumah sakit yang harus dibiayai karena ditusuk, karena dilempar pakai batu? Setelah ini (program) akan kami kuatkan dengan Pergub,” ujar Dedi Mulyadi.

(Tribunnews.com/Galuh Widya Wardani/Alfarizy Ajie Fadhillah)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas