Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengamat: Jokowi Lebih Masuk Akal Pimpin PSI Ketimbang PPP, Tapi Bukan Pilihan Ideal

Banyak kader PSI yang disebutnya sebagai loyalis Jokowi, sehingga peluang Jokowi untuk memenangkan bursa calon ketua umum partai itu sangat besar

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Pengamat: Jokowi Lebih Masuk Akal Pimpin PSI Ketimbang PPP, Tapi Bukan Pilihan Ideal
TRIBUNSOLO.COM/Anang Ma'ruf
JOKOWI PILIH PSI - Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), saat ditemui di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Kota Solo, Jumat (6/6/2026). Jokowi mulai santer disebut-sebut dalam bursa calon ketua umum sejumlah partai politik, salah satunya PPP. Namun Jokowi menegaskan dirinya memilih Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menyoroti pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang lebih memilih bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dibanding Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Menurutnya, Jokowi dan PSI sama-sama menganut paham nasionalis, sementara PPP memiliki basis ideologi religius.

“Jokowi yang nasionalis tentu tak sejalan dengan PPP yang menganut religius. Perbedaan ideologis itu tentu aneh bila Jokowi memimpin PPP. Jokowi akan dinilai sosok yang menerima jabatan apa saja tanpa melihat kesesuaiannya,” kata Jamiluddin saat dihubungi Tribunnews.com, Senin (9/6/2025).

Di sisi lain, lanjut Jamiluddin, PSI memiliki kedekatan ideologis dan loyalitas terhadap Jokowi. 

Bahkan, banyak kader PSI yang disebutnya sebagai loyalis Jokowi, sehingga peluang Jokowi untuk memenangkan bursa calon ketua umum (caketum) partai tersebut sangat besar.

Baca juga: Sinyal Kuat Jokowi Mencalonkan Ketua Umum PSI

Selain itu, Jamiluddin menilai kepemimpinan Jokowi di PSI bisa menjadi kelanjutan agenda politik putranya, Kaesang Pangarep, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PSI. 

Ia menyebut kehadiran Jokowi berpotensi mendongkrak elektabilitas PSI dan membuka peluang masuk ke Senayan pada Pemilu Legislatif 2029.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun demikian, Jamiluddin menilai bahwa secara usia dan karakter partai, Jokowi tetap bukan sosok ideal untuk memimpin PSI. 

Ia menekankan bahwa PSI selama ini dikenal sebagai partai anak muda, sehingga kepemimpinan idealnya juga berasal dari kalangan muda.

“Kalau Jokowi memimpin PSI tentu aneh. Sebab, PSI partai anak muda yang dipimpin orang tua. Kalau terjadi tentu paradoks bagi PSI,” ujarnya.

Karena itu, ia menyarankan agar Jokowi menyadari posisinya dan tidak memaksakan diri untuk memimpin partai yang secara karakter tidak sesuai.

“Jadi, idealnya PSI dipimpin orang muda. Jokowi sebaiknya tahu diri bahwa dirinya tak pantas memimpin PSI,” pungkas Jamiluddin.

Sebelumnya, sinyal mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) untuk berlabuh ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tampaknya semakin menguat.

Pasalnya, ketika ditanya wartawan, Jokowi enggan untuk masuk PPP meski santer disebut masuk dalam bursa calon ketua umum (caketum).

Dia mengatakan di dalam internal PPP, masih banyak tokoh yang lebih layak memimpin partai berlambang Ka'bah itu ketimbang dirinya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas