Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Krisis Iklim Lebih Bahaya dari Konflik, Sekolah Harus Jadi Pelopor Perubahan

UNESCO menyoroti bahwa krisis terbesar dunia adalah perubahan iklim, bukan perang. Maka pendidikan perubahan iklim adalah prioritas utama

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
zoom-in Krisis Iklim Lebih Bahaya dari Konflik, Sekolah Harus Jadi Pelopor Perubahan
Istimewa
PERUBAHAAN IKLIM - Koordinator Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan – Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Ananto Kusuma(tengah) saat penutupan program OASIS Schoolyards Semarang yang digelar di Balai Kota Semarang belum lama ini.  Ananto mengungkapkan pendidikan perubahan iklim harus menjadi prioritas utama dalam sistem pendidikan Indonesia 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendidikan perubahan iklim harus menjadi prioritas utama dalam sistem pendidikan Indonesia.

Koordinator Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan – Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Ananto Kusuma Seta mengatakan,  tantangan terbesar umat manusia saat ini bukan lagi konflik atau perang, melainkan krisis iklim.

"UNESCO menyoroti bahwa krisis terbesar dunia adalah perubahan iklim, bukan perang. Maka pendidikan perubahan iklim adalah prioritas utama,” ujar Ananto saat penutupan program OASIS Schoolyards di Balai Kota Semarang Jateng belum lama ini.

Baca juga: Seniman Bali Gaungkan Kesadaran Perubahan Iklim Lewat Musik dan Budaya

Program OASIS Schoolyards merupakan hasil kolaborasi antara PT Global Dairi Alami (MilkLife), Resilient Cities Network (R-Cities), dan Pemerintah Kota Semarang, serta menyasar lima sekolah dasar dan madrasah yang berada di wilayah rentan banjir dan gelombang panas: MI Darul Ulum, MI Mirfa’ul Ulum, SDN Gebangsari 01, SDN Kaligawe, dan SD Marsudirini Gedangan berlangsung sejak September 2024 hingga Juni 2025.

Program ini menyentuh berbagai aspek penting di lingkungan sekolah mulai dari peningkatan kapasitas guru, pengembangan kurikulum pembelajaran perubahan iklim, hingga transformasi fisik halaman sekolah menjadi ruang terbuka hijau berbasis solusi alam.

"Untuk itu pendekatan pendidikan harus diarahkan untuk menjawab tantangan tersebut dengan menciptakan generasi yang sadar, tangguh, dan siap menghadapi dampaknya yang dimulai dari sekolah sebagai ruang pembentuk karakter dan budaya," kata  Ananta.

Ditambahkannya, 73 persen sekolah di Indonesia berada di kawasan rawan banjir, menjadikan sekolah sebagai titik awal penting dalam membangun ketangguhan masyarakat.

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam konteks itu, program OASIS Schoolyards berhasil membuktikan bahwa prinsip-prinsip pendidikan perubahan iklim bisa diterjemahkan ke dalam praktik nyata di lingkungan sekolah.

“Sekolah yang menjadi rumah kedua bagi anak-anak, melalui program ini juga berfungsi sebagai laboratorium hidup untuk kehidupan berkelanjutan. Dari sekolah, nilai-nilai ketangguhan bisa menjalar ke masyarakat. Semarang sudah membeli masa depan dengan harga sekarang,” lanjutnya.

Baca juga: Putri Zulkifli Hasan Ungkap Tantangan RI Terkait Perubahan Iklim dalam Forum Internasional di Rusia

Ananto menyebut pendidikan perubahan iklim bukan semata soal pelajaran di kelas, melainkan soal menciptakan ekosistem kehidupan yang tahan terhadap krisis, dimulai dari ruang yang paling dekat dengan anak: sekolah.

“Kita tidak bisa menunggu, perubahan harus dimulai sekarang, dan sekolah adalah tempat paling strategis untuk menanam benih ketangguhan itu. Dengan program ini, Semarang tak hanya merespons tantangan hari ini, tetapi juga menyiapkan pijakan kuat untuk masa depan yang lebih hijau, tangguh, dan inklusif," katanya.

Kepala Bappeda Kota Semarang, Budi Prakosa, S.T., M.T., yang mewakili PLH Wali Kota Semarang dalam acara penutupan, mengapresiasi pendekatan kolaboratif yang dilakukan dalam program ini. 

Ia berharap sekolah-sekolah di Semarang bisa menjadi “oase” bagi kawasan kota yang padat, sekaligus pelopor gerakan lingkungan hidup dari level komunitas.

Baca juga: Cegah Perubahan Iklim di Indonesia CPI Luncurkan Buku Realitas Pembiayaan Transisi Energi

“Sekolah menjadi ruang terbuka hijau publik yang mendinginkan kawasan sekitarnya, sekaligus pelopor pendidikan lingkungan hidup dan perubahan iklim,” katanya.

Budi menambahkan, program ini bukan hanya berdampak pada siswa, tetapi juga memiliki daya pengaruh terhadap masyarakat sekitar.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas