Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun
LIVE ●

Perang Kini Simultan dan Presisi, Bagaimana Kesiapan Indonesia?

Indonesia harus mewaspadai lima titik panas yakni Ukraina, Timur Tengah, Taiwan, Laut China Selatan, dan konflik India–Pakistan

Penulis: Reza Deni
Editor: Erik S
zoom-in Perang Kini Simultan dan Presisi, Bagaimana Kesiapan Indonesia?
Istimewa
REKOMENDASI: Focus Group Discussion (FGD) bertajuk 'Potensi Perang Dunia dan Kesiapan Indonesia ke Depan', di kantor GREAT Institute, Jakarta Selatan, Jumat (4/7/2025). FGD tersebut merekomendasikan pembentukan Undang-Undang Keamanan Nnasional dan Dewan Keamanan Nasional. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Serangan Amerika Serikat ke Iran menandakan bahwa perang tidak lagi frontal.

Perang telah telah bergeser menjadi multidomain warfare. Demikian disampaikan pakar pertahanan dan intelijen Dr. Stepi Anriani dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk 'Potensi Perang Dunia dan Kesiapan Indonesia ke Depan', di kantor GREAT Institute, Jakarta Selatan, Jumat (4/7/2025). 

“Perang tidak lagi frontal, tapi simultan dan presisi. Lihat serangan B-2 Spirit Amerika ke fasilitas Iran atau rudal presisi Iran ke Israel. Semua terukur,” beber Stepi.

Baca juga: Pangkalan Militer AS di Irak Kembali Diserbu Drone Asing, Sinyal Perang Baru di Timteng?

Dalam hal pertahanan, Stepi menekankan pentingnya negara memiliki Komponen Cadangan (Komcad) selain militer aktif. Hal itu sudah dilakukan Cina.

“Mereka bahkan melatih nelayan jadi bagian dari sistem pertahanan. Kita harus bisa berpikir sepraktis itu,” kata Stepi.

Ia mengusulkan agar Komcad dilatih menjadi milisi laut dan ditempatkan menjaga pulau-pulau terluar Indonesia. 

Pentingnya unsur pertahanan negara tersebut juga disoroti aktivis Dr Anton Permana. Kata dia, Indonesia harus mewaspadai lima wilayah 'panas'.

“Setidaknya ada lima titik panas yang harus kita waspadai: Ukraina, Timur Tengah, Taiwan, Laut China Selatan, dan konflik India–Pakistan,” kata Anton.

Anton mengingatkan bahwa Australia memiliki 23 pangkalan rudal yang mengarah ke Indonesia, sementara pertahanan udara RI masih mengandalkan pesawat generasi keempat.

“Kalau kita ingin perdamaian, maka kita harus kuat. Dan kekuatan itu tidak cukup hanya lewat niat, tapi juga lewat struktur,” ujar Anton.

Ketegasan Diplomasi

Mantan Duta Besar RI untuk Mesir Helmy Fauzi menyinggung mengenai pentingnya ketegasan diplomasi. Menurut Helmy, Asia Tenggara (ASEAN) harus dikuatkan karena di Amerika Serikat sudah memindahkan sebagian besar kekuatan militernya ke sana.

Baca juga: Selama 1 Jam Telepon dengan Trump, Putin Tetap Tolak Hentikan Perang Ukraina

“Amerika sudah memindahkan 60 persen kekuatan militernya ke Asia Pasifik. Kalau ASEAN tidak dikuatkan, kita hanya akan jadi panggung pertarungan super power,” katanya.

Helmy memuji langkah Presiden Prabowo yang membawa Indonesia masuk ke kerja sama multilateral Brasil, Russia, India, China, South Africa (BRICS).

“Sikap kita kini tegas. Beda dengan era sebelumnya yang masih gamang,” kata dia.

Dewan Keamanan Nasional 

Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Dr. Syahganda Nainggolan mengatakan Indonesia harus selalu dalam posisi siap dalam menyikapi perubahan dunia internasional.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas