Sahroni, Eko, Uya: Trio DPR yang Dicari Pendemo dan Netizen, Satu Kena Serbu
Tiga nama DPR diteriakkan massa, satu rumah diserbu. Kata rakyat pedas, aksi brutal, siapa yang benar-benar hadir saat negara dipanggil?
Penulis:
Abdul Qodir
Editor:
Acos Abdul Qodir
Uya Kuya juga sempat disorot karena pernyataannya yang menyebut gaji Rp3 juta “tidak besar,” yang menuai kritik luas dari masyarakat.
Komentar netizen dalam siaran langsung saat rumah Sahroni digeruduk:
“Rumah Uya Kuya sama Eko jangan lupa.”
Baca juga: Tetangga Sebut Ahmad Sahroni ke Singapura saat Rumahnya Digeruduk Massa, Warga Merasa Khawatir
Puan Maharani Masuk Radar Sorotan
Ketua DPR RI Puan Maharani juga menjadi bagian dari sorotan publik. Dalam beberapa orasi, massa menyebut janji Puan untuk membuka pintu DPR bagi rakyat sebagai “janji palsu.”
Seruan seperti: “Puan, dibuka yok lebar-lebar pintu DPR. Mana janjinya Puan yang bilang pintu dibuka lebar-lebar? Janji palsu” menggema di tengah kerumunan demonstran, menandakan harapan besar terhadap keterbukaan lembaga legislatif.
Kritik dari Akademisi
Peneliti BRIN, Aisah Putri Budiatri, menyoroti minimnya kehadiran moral dan fisik anggota DPR dalam momentum krusial ini. Ia menyebut bahwa beredar kabar mengenai kunjungan luar negeri oleh beberapa anggota dewan yang dinilai tidak mendesak.
“Bahkan, tersebar kabar jika anggota DPR akan melakukan kunjungan ke luar negeri dengan sebagian agenda dilakukan mengandung unsur ‘jalan-jalan’ tanpa agenda penting. Miris sekali,” ujar Aisah.
Baca juga: 6 Pernyataan DPR soal Tunjangan Rp50 Juta yang Diduga Awal Demo hingga Terjadi Tragedi Affan
Ketika Lidah Tak Bertulang dan Telinga Wakil Rakyat Tak Mendengar
Di tengah gelombang suara rakyat yang menggema dari jalanan hingga jagat digital, ucapan para wakil rakyat diuji bukan hanya oleh mikrofon, tetapi oleh kenyataan.
Ketika lidah tak bertulang melontarkan kata-kata yang menyulut amarah, dan telinga wakil rakyat tak lagi peka terhadap jeritan publik, maka jarak antara parlemen dan rakyat bukan sekadar fisik—melainkan kepercayaan yang retak.
Demonstrasi ini bukan hanya tentang tuntutan, tetapi tentang harapan yang menuntut untuk didengar, dijawab, dan dihormati.
Catatan: Kutipan dari netizen dan demonstran dalam artikel ini merupakan representasi opini publik yang beredar di media sosial dan ruang demonstrasi. Pernyataan tersebut tidak mewakili kebenaran hukum atau sikap resmi lembaga. (Tribunnews.com/BangkaPos.com/Tribunjatim.com/Kompas.com)
Baca tanpa iklan