Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ray Rangkuti Sebut Gaji DPR 42 Kali Lipat Gaji Rakyat, Timbulkan Kesenjangan Sosial

Direktur Eksekutif LIMA Ray Rangkuti, menyoroti kesenjangan antara pejabat negara, khususnya anggota DPR, dengan rakyat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Ray Rangkuti Sebut Gaji DPR 42 Kali Lipat Gaji Rakyat, Timbulkan Kesenjangan Sosial
Tribunnews.com/ Rahmat W Nugraha
GAJI DPR - Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti di Jakarta, Rabu (19/2/2025). Ia menyebut besaran gaji anggota DPR picu kesenjangan sosial. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti, menyoroti kesenjangan antara pejabat negara, khususnya anggota DPR, dengan rakyat.

Menurut aktivis lulusan Fakultas Ushuluddin program studi Aqidah Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, gaji anggota DPR 42 kali lipat dari pendapatan umum rakyat Indonesia menciptakan kesenjangan sosial.

Atas hal itu ia menilai pendapatan anggota DPR harus diturunkan.

Tunjangan-tunjangan anggota DPR harus dibatasi.

Ia mencontohkan, jika masyarakat rata-rata hanya mendapat Rp 71 ribu per hari, maka anggota DPR bisa menerima hingga Rp 3 juta per hari.

“Itu artinya bisa 42 kali lipat lebih besar. Tunjangan-tunjangannya memang harus dibatasi. Tapi ini bukan hanya soal DPR, pejabat negara secara umum penghasilannya puluhan kali lipat dibanding rakyat,” kata Ray Rangkuti, dihubungi Jumat (5/9/2025).

Baca juga: Tak Hanya Rp100 Juta, Mahfud MD Duga Gaji DPR RI Capai Miliaran: Kalau Masih Korup ya Kurang Ajar

Efek dari itu dikatakannya menimbulkan kesenjangan sosial.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal itu bisa dilihat dari flexing, selfie-selfie, wara-wiri ke luar negeri anggota DPR menggunakan uang rakyat.

"Sementara rakyat kesulitan untuk makan, jangankan jalan-jalan, makan saja sudah susah sekarang,” imbuhnya.

Baca juga: Gaji DPR Tembus Rp100 Juta, Kiesha Alvaro Berniat Nyaleg di 2029 Ikuti Jejak Pasha Ungu

Selain kesenjangan sosial, Pendiri Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) ini juga menyoroti adanya kesenjangan politik.

Menurutnya hal itu disebabkan dinasti politik.

“Politik sekarang bertumpu pada keluarga-keluarga. Jadi semakin sedikit orang yang bisa masuk ke dalam ritme politik ini,” ucapnya.

Demonstrasi di DPR berawal dari seruan aksi demonstrasi menyikapi meroketnya tunjangan anggota DPR RI lebih dari Rp 100 juta.

Mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat pun kemudian melakukan aksi unjuk rasa pada Senin, 25 Agustus 2025.

Aksi dipicu adanya kekecewaan publik terhadap DPR RI hingga muncul desakan untuk membubarkan DPR RI.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas