Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Utang Whoosh Menggunung, AHY Peras Otak Siapkan Dua Cara Melunasinya, Apa Saja?

Ada dua skema yang sedang disiapkan Menteri Agus Harimurti Yudhoyono untuk melunasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Utang Whoosh Menggunung, AHY Peras Otak Siapkan Dua Cara Melunasinya, Apa Saja?
Endrapta Pramudhiaz/Tribunnews.com
MENTERI AHY- Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat membuka rapat mengenai penanganan truk ODOL di Kantor Kemenko Infra, Jakarta Pusat, Senin (6/10/2025). Ada dua skema yang sedang disiapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk melunasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh sebesar Rp116 triliun. 

Ringkasan Berita:
  • Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyiapkan dua skema untuk melunasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung
  • Cara pertama, restrukturisasi utang lewat BPI Danantara
  • Cara kedua, kontribusi pembiayaan dari Kementerian Keuangan melalui skema tertentu di APBN

 

TRIBUNNEWS.COM - Ada dua skema yang sedang disiapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk melunasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh sebesar Rp116 triliun.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah menolak wacana penggunaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk melunasi utang Whoosh.

Menurut AHY, terdapat dua pilihan pendanaan yang tengah dikembangkan bersama lintas kementerian dan lembaga.

"Saya belum bisa menyampaikan secara final karena semuanya masih dihitung dan dikaji,” ujar AHY setelah sidang kabinet paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin, (20/10/2025), dikutip dari Warta Kota.

Kata putra mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono itu, opsi pendanaan dibahas dalam rapat koordinasi lintas kementerian bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara beberapa waktu lalu.

Rekomendasi Untuk Anda

Dia berkata Kemenko Infrastruktur mengundang Kementerian Perhubungan (Kemenhub), PT KAI (Persero), dan BPI Danantara untuk berdiskusi guna mencari jalan keluar.

AHY menyampaikan persoalan utang itu harus segera diselesaikan lantaran rute Whoosh kini direncanakan diperpanjang hingga Kota Surabaya, Jawa Timur. Utang itu sebisa mungkin tidak menghambat pengembangan jaringan transportasi cepat.

KERETA WHOOSH - Sejumlah penumpang berjalan masuk ke kereta Whoosh di Stasiun Whoosh Halim, Jakarta, Jumat (4/4/2025).
KERETA WHOOSH - Sejumlah penumpang berjalan masuk ke kereta Whoosh di Stasiun Whoosh Halim, Jakarta, Jumat (4/4/2025). (WARTA KOTA/YULIANTO)

Lalu, AHY mengungkapkan saat ini terdapat dua altenatif pendanaan sedang dibahas. Pertama, restrukturisasi utang lewat BPI Danantara. Kedua, kontribusi pembiayaan dari Kementerian Keuangan melalui skema tertentu di APBN.

“Kami masih menunggu arahan Pak Presiden sambil terus mengembangkan opsi terbaik yang berkelanjutan. Harapannya, setelah masalah ini selesai, kita bisa melangkah ke tahap pengembangan kereta cepat Jakarta–Surabaya,” kata AHY.

Utang Whoosh capai Rp116 triliun

Proyek Whoosh merupakan Jokowi yang mulai digarap pada tahun 2016 dan resmi beroperasi Oktober 2023. 

Baca juga: Mahfud MD Minta Dugaan Mark Up Whoosh Langsung Diselidiki, KPK: Kami Juga Lakukan Case Building

Nilai investasinya mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp118 triliun sehingga menjadikannya salah satu proyek infrastruktur terbesar di Indonesia.

Proyek ini dijalankan melalui skema business-to-business (B2B) antara konsorsium BUMN Indonesia yang dipimpin PT KAI dan perusahaan Tiongkok, yakni China Railway International dan China Railway Engineering Corporation, tanpa menggunakan dana APBN secara langsung.

Skema pembiayaan proyek sempat menjadi sorotan publik karena pembengkakan biaya dan utang BUMN yang menyertainya.

Bahkan, mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyebut biaya pembangunan per kilometer di Indonesia mencapai 52 juta dolar AS, sementara di Tiongkok hanya 17–18 juta dolar AS.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas