Sosok Prof. Anthony Budiawan, Eks Rektor yang Singgung Dugaan Mark Up Proyek Whoosh
Prof. Anthony Budiawan menyinggung dugaan mark up atau penggelembungan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Garudea Prabawati
TRIBUNNEWS.COM – Prof. Anthony Budiawan menyinggung dugaan mark up atau penggelembungan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau yang lebih dikenal sebagai Whoosh.
Anthony mencurigai diikutsertakannya Jepang dalam tender Whoosh bertujuan untuk melambungkan harga.
“Jepang memang diikutkan di dalam tender Jakarta-Bandung, tetapi kemudian saya mencurigai bahwa Jepang diikutkan karena untuk mengatrol harga karena harga itu murah sekali,” kata Anthony dalam siniar Forum Keadilan yang tayang di YouTube, Senin, (20/10/2025).
“Dari Cina seharusnya murah, mungkin bisa 60 persennya. Nah, makanya Jepang diikutsertakan. Kesatu adalah memang harus ada tender dan kedua adalah memang untuk mengatrol harga.”
Dia berkata Jepang kemudian batal digandeng dengan alasan Jepang meminta jaminan dari pemerintah.
Kemudian, Anthony menilai biaya proyek Whoosh di Indonesia sangat mahal.
“Karena proyek sejenis di Cina biayanya hanya 17 sampai 30 juta [dolar AS] per kilometer. Di kita 52 juta per kilometer. Kalau dibandingkan dengan yang paling rendah, tentu hampir tiga kali lipat,” kata dia.
Lalu, dia menyebut medan kereta Jakarta-Bandung tidak terlalu susah. Karena itu, harga 25 juta dolar AS per km sebenarnya sudah mencukupi untuk proyek itu.
“Harus diselidiki kenapa proyek ini bisa sampai dua kali lipat lebih tinggi dari yang di Cina,” katanya.
Dia mengklaim pembengkakan biaya dalam proyek kereta cepat tidaklah normal.
Profil Anthony Budiawan
Baca juga: Kritik Pemerhati Transportasi Buntut Gegeran Whoosh: Jangan Hanya Kejar Titik Impas Keuangan
Dikutip dari laman SGX.com, Anthony lahir pada tahun 1961.
Dia meraih gelar magister bidang ekonomi bisnis di Universitas Erasmus di Belanda. Anthony memiliki keahlian dalam bidang pengembangan ekonomi, pengembangan bisnis, keuangan, rantai pasokan, analisis sistem, dan pendidikan.
Pria ini memulai karier akademik awalnya di Insitut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) pada tahun 1989 hingga 1990. Jabatan terakhir dia adalah asisten direktur urusan akademik.
Sesudah itu, dia mendirikan perusahaan konsultan manajemen (1996 hingga 2008) yang memfokuskan proses pengembangan bisnis untuk meningkatkan produktivitas klien.
Anthony turut terlibat organisasi nonprofit. Dia menjadi salah satu anggota dewan Asosiasi Eksekutif Keuangan Indonesia yang didirikan pada tahun 1975. Selain itu, dia menjadi salah satu pendiri Institute for Financial and Economic Advancement (IIFEA) tahun 2009.
Baca tanpa iklan