Saling Sindir PSI dan PDIP, Ibarat 2 Pengemudi yang Masuk ke Dalam 1 Jalur Sempit
Meski tak menyebut nama siapa nenek-nenek dimaksud akan tetapi Politisi PDIP Guntur Romli membalas sindiran itu.
Penulis:
Reza Deni
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Politisi PDIP dan PSI kerap saling kritik dan saling sindir secara terbuka
- Meski tak menyebut nama siapa nenek-nenek dimaksud akan tetapi Politisi PDIP Guntur Romli membalas sindiran Ahmad Ali PSI
- Kata pengamat politik kedua partai ini tak bisa dipungkiri memiliki ceruk pemilih yang sama.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Politisi PDIP dan PSI kerap saling kritik dan saling sindir secara terbuka.
Terbaru Ketua Harian PSI Ahmad Ali menyindir soal nenek-nenek yang puluhan tahun jadi ketua partai.
Meski tak menyebut nama siapa nenek-nenek dimaksud akan tetapi Politisi PDIP Guntur Romli membalas sindiran itu.
Dia balik mengungkit sikap Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan ingin pulang ke Solo, Jawa Tengah, usai lengser dari kursi kepala negara untuk momong cucu.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Direktur Eksekitif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai perang wacana atau saling sindir antara politisi PSI dan PDIP mencerminkan persaingan dua kekuatan politik yang sedang berebut ruang dalam jalur politik nasional yang makin sempit.
Hal ini bukan hanya soal perbedaan ideologi atau preferensi tokoh yang berbeda, tetapi soal siapa yang lebih dulu menguasai perhatian publik.
“Pertarungan wacana PSI–PDIP sekarang ibarat dua pengemudi yang masuk ke satu jalur sempit," kata Arifki kepada Tribunnews.com, Rabu (26/11/2025).
Menurut dia kedua partai ini tak bisa dipungkiri memiliki ceruk pemilih yang sama.
"Jika PSI saat ini punya icon Jokowi, PDI-P sudah sejak lama punya Megawati. Namunsesuatu yang tak bisa dipungkiri adalah dulu Jokowi adalah kader PDI-P," kata Arifki.
Menurutnya, gesekan muncul bukan karena salah satu pihak berada di jalur yang keliru, tetapi karena ruang manuver yang direbut adalah ruang yang sama.
Ceruk pemilih nasionalis, pemilih muda, dan publik digital yang semakin menentukan arah politik nasional kedepannya.
Apalagi saat ini, momentum partai-partai sedang merapikan struktur politiknya.
Dia menambahkan bahwa gaya komunikasi kedua partai semakin mempertegas metafora itu.
"PSI memainkan strategi akselerasi, serangan cepat, satir, dan memancing viralitas. PDIP yang sudah punya kelembagaan yang kuat dan tradisional, sekarang juga ikut bermain dengan narasi sama agar tidak dinilai pasif," kata dia.
“Di jalur sempit seperti itu, setiap manuver punya risiko. PSI sesekali menggeser ke kiri untuk menyalip narasi lama, sementara PDIP mencoba mempertahankan laju dengan ikut melakukan serangan balik. Ketika keduanya bergerak di ruang yang sama, benturan wacana hampir tak terhindarkan,” katanya.
Baca tanpa iklan