Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Saling Sindir PSI dan PDIP, Ibarat 2 Pengemudi yang Masuk ke Dalam 1 Jalur Sempit

Meski tak menyebut nama siapa nenek-nenek dimaksud akan tetapi Politisi PDIP Guntur Romli membalas sindiran itu.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Reza Deni
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Saling Sindir PSI dan PDIP, Ibarat 2 Pengemudi yang Masuk ke Dalam 1 Jalur Sempit
Kolase Tribunnews
JOKOWI DAN MEGAWATI - PSI menyebut Jokowi patut dicontoh diam melawan tuduhan. Sementara politisi PDIP menduga PSI menyasar Megawati Soekarnoputri soal sindiran nenek-nenek. 

Ringkasan Berita:
  • Politisi PDIP dan PSI kerap saling kritik dan saling sindir secara terbuka
  • Meski tak menyebut nama siapa nenek-nenek dimaksud akan tetapi Politisi PDIP Guntur Romli membalas sindiran Ahmad Ali PSI
  • Kata pengamat politik kedua partai ini tak bisa dipungkiri memiliki ceruk pemilih yang sama.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Politisi PDIP dan PSI kerap saling kritik dan saling sindir secara terbuka.

Terbaru Ketua Harian PSI Ahmad Ali menyindir soal nenek-nenek yang puluhan tahun jadi ketua partai.

Meski tak menyebut nama siapa nenek-nenek dimaksud akan tetapi Politisi PDIP Guntur Romli membalas sindiran itu.

Dia balik mengungkit sikap Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan ingin pulang ke Solo, Jawa Tengah, usai lengser dari kursi kepala negara untuk momong cucu.

Apa sebenarnya  yang terjadi?

Direktur Eksekitif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai perang wacana atau saling sindir antara politisi PSI dan PDIP mencerminkan persaingan dua kekuatan politik yang sedang berebut ruang dalam jalur politik nasional yang makin sempit.

Hal ini bukan hanya soal perbedaan ideologi atau preferensi tokoh yang berbeda, tetapi soal siapa yang lebih dulu menguasai perhatian publik.

Rekomendasi Untuk Anda

“Pertarungan wacana PSI–PDIP sekarang ibarat dua pengemudi yang masuk ke satu jalur sempit," kata Arifki kepada Tribunnews.com, Rabu (26/11/2025).

Menurut dia kedua partai ini tak bisa dipungkiri memiliki ceruk pemilih yang sama.

"Jika PSI saat ini punya icon Jokowi, PDI-P sudah sejak lama punya Megawati. Namunsesuatu yang tak bisa dipungkiri adalah dulu Jokowi adalah kader PDI-P," kata Arifki.

Menurutnya, gesekan muncul bukan karena salah satu pihak berada di jalur yang keliru, tetapi karena ruang manuver yang direbut adalah ruang yang sama.

Ceruk pemilih nasionalis, pemilih muda, dan publik digital yang semakin menentukan arah politik nasional kedepannya. 

Apalagi saat ini, momentum partai-partai sedang  merapikan struktur politiknya. 

Dia menambahkan bahwa gaya komunikasi kedua partai semakin mempertegas metafora itu. 

"PSI memainkan strategi akselerasi, serangan cepat, satir, dan memancing viralitas. PDIP yang sudah punya kelembagaan yang kuat dan tradisional, sekarang juga ikut bermain dengan narasi sama agar tidak dinilai pasif," kata dia.

“Di jalur sempit seperti itu, setiap manuver punya risiko. PSI sesekali menggeser ke kiri untuk menyalip narasi lama, sementara PDIP mencoba mempertahankan laju dengan ikut melakukan serangan balik. Ketika keduanya bergerak di ruang yang sama, benturan wacana hampir tak terhindarkan,” katanya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas