18 Tahun dengan HIV, Kiki Bangkit Demi Hidup Lebih Lama Bersama Anak
Menggambarkan masa awal saat terdiagnosis, Kiki mengaku tak punya semangat hidup, sekadar minum air saja tak sanggup. Kini situasinya berbeda.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di balik senyum perempuan yang biasa disapa Kiki ini, menyimpan kisah perjuangan panjang sebagai penyintas HIV.
Ia mampu bertahan dalam waktu yang lama dengan penyakit tersebut. Sudah 18 tahun lamanya, Kiki berstatus HIV positif dan tetap disiplin meminum obat ARV.
Menggambarkan masa awal saat terdiagnosis, Kiki mengaku tak punya semangat hidup, sekadar minum air saja tak sanggup.
“Disuruh ini itu saya tidak mau, minum air saja tidak mau. Ini itu saya tidak mau, mendingan sudahan saja,” kata dia dalam kegiatan temu media di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Rumah tangganya pun harus berakhir. Dalam keputusasaan, Kiki mencoba bangkit. Anak menjadi motivasinya untuk hidup lebih lama.
Baca juga: 5 Pengakuan MUA Dea Lipa yang Viral Dijuluki Sister Hong Lombok: Pernah Dibully, Bantah Idap HIV
Baginya penyintas HIV harus tetap berkarya dengan caranya masing-masing.
Kiki, yang seorang ibu rumah tangga, kini tergabung dalam Anggota Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Banten, sebuah komunitas yang memperjuangkan hak dan pemberdayaan perempuan penyintas HIV.
“Saya HIV positif, saya sudah 18 tahun mengetahui status ini. Anak saya negatif dan sekarang sudah berusia remaja dan dia sehat dan sekarang saya berdaya, saya bisa seperti ini, bisa berdiri dengan kaki saya sendiri,” ungkap Kiki.
Lewat kisah hidupnya ini, Kiki ingin menyemangati setiap perempuan yang sedang menghadapi hal serupa.
Ia menegaskan bahwa ODHIV (Orang yang Hidup dengan HIV) dapat beraktivitas dan bekerja layaknya perempuan lainnya bahkan dapat memiliki anak dan keluarga yang sehat.
“Enggak ada bedanya dengan teman-teman yang tidak hidup dengan HIV. Saya HIV dan it's fine. Berdaya, punya anak, bisa bekerja, bersosialisasi. Kami adalah perempuan yang hidup dengan HIV, dan kami adalah perempuan yang berdaya, dan kami tidak takut dengan HIV,” tutur dia.
ODHIV Masih Dibayangi Stigma dan Diskriminasi
IPPI mencatat stigma dan diskriminasi terhadap penyintas HIV masih sering terjadi, terutama dari pasangan dan petugas layanan kesehatan.
Keduanya sering memberikan perlakuan tidak adil kepada ODHIV.
Kiki menggambarkan, bentuk diskriminasi paling umum terjadi saat penyintas mengakses layanan kesehatan.