Gus Ipul Dirotasi dari Sekjen PBNU, Pengamat: Malah Mengaduk-aduk Persoalan
Pengamat politik Citra Institute, Efriza, mengomentari rotasi jabatan strategis di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- Pengamat politik Citra Institute, Efriza, mengomentari rotasi jabatan strategis di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
- Salah satu sosok yang dirotasi adalah Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul.
- Menurut Efriza, dengan dicopotnya Gus Ipul, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya justru malah berpolemik.
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat politik Citra Institute, Efriza mengomentari rotasi jabatan strategis di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Salah satu sosok yang dirotasi adalah Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul.
Ia dirotasi jabatannya dari Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi Ketua PBNU Bidang Pendidikan, Hukum, dan Media.
Rotasi jabatan ini merupakan hasil dari rapat Pengurus Harian Tanfidziyah yang digelar di Gedung PBNU, Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (28/11/2025).
Dalam keterangannya, rotasi dilakukan sebagai evaluasi kinerja dan upaya memperlancar efektivitas organisasi.
Namun, menurut Efriza, dengan dicopotnya Gus Ipul, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya justru malah berpolemik.
"Kalau melihat apa yang terjadi ini saya rasa ini yang dikhawatirkan juga oleh NU maupun oleh tokoh-tokoh NU seperti Pak Mahfud MD bilang, Gus Yahya, artinya maaf sekali lagi maaf dalam tanda kutip bisa dikatakan sedang melakukan perlawanan. Ia malah mengaduk-aduk persoalan."
"Ia malah berpolemik besar lagi dengan mencopot Gus Ipul, artinya kesolidan harusnya dibangun di kepengurusan. Harusnya di tengah situasi ini tidak boleh ada yang dicopot," ujar Efriza dalam acara On Focus yang tayang di YouTube Tribunnews, Jumat (28/11/2025).
Jika terjadi pencopotan, justru masalah yang sedang terjadi akan makin berlarut-larut.
Dalam kondisi seperti ini, Gus Yahya berada di dalam posisi yang paling lemah karena dirinya adalah seorang pimpinan.
Efriza menyebut, seharusnya Gus Yahya memberikan klarifikasi terkait dugaan adanya aliran dana Rp 100 miliar ke ke rekening milik PBNU yang dikelola oleh Mardani H. Maming yang saat itu menjabat sebagai Bendahara Umum PBNU.
Baca juga: Dugaan Aliran Dana Rp100 Miliar di Balik Desakan Ketua Umum PBNU Gus Yahya Mundur Mencoreng NU
"Kalau saling mencopot, saling menegasikan, saling berprasangka atau berpolemik, maka yang terjadi adalah kasus ini akan semakin berlarut-larut."
"Dan kalau berlarut-larut, tentu posisi yang paling lemah adalah posisi Gus Yahya. Kenapa dia paling lemah? Karena dia yang tersorot, dia pimpinan, dia yang harus mengklarifikasikan 100 M itu sendiri," tuturnya.
Efriza menilai, langkah Gus Yahya untuk melakukan pergantian pada sejumlah jabatan di PBNU justru akan memperburuk citranya sebagai pimpinan.
"Dan apa yang dilakukan Gus Yahya sebagai atau merasa sebagai masih Ketua Umum PBNU dengan mencopot, tentu saja citra NU ini semakin berpolemik dan ini akan memperburuk citra dirinya sendiri sebagai pimpinan karena semestinya dirangkul seluruhnya, bukan terjadi tadi pencopotan ataupun saling mencopot satu dengan yang lainnya," terangnya.
Baca tanpa iklan