Jamiluddin Ritonga: Konflik di PBNU Dapat Berimbas ke Eksternal Organisasi
Konflik yang tidak mereda di internal dapat meluas dan berpengaruh pada stabilitas politik nasional.
Penulis:
Ibriza Fasti Ifhami
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Permasalahan konflik internal PBNU bisa berdampak kepada eksternal organisasi
- Jamiluddin Ritonga menyatakan, friksi atau perpecahan antar faksi dapat meluas
- Lalu akan berimbas pada akar rumput NU
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai konflik di internal Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) dapat berimbas ke eksternal organisasi.
Jamiluddin mengatakan, konflik di PBNU akan berdampak pada soliditas di internal NU. Faksi-faksi berpeluang akan semakin meruncing. Bahkan friksi atau perpecahan antar faksi dapat meluas.
Meluasnya friksi antar faksi, menurutnya, dapat berdampak pada akar rumput di Nahdlatul Ulama (NU).
"Akar rumput (NU) dapat terbelah sesuai faksi-faksi yang berseteru. Kalau akar rumput ikut terlibat dalam konflik, maka ketegangan di NU akan semakin meningkat. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan," kata Jamiluddin, saat dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (29/11/2025).
Dalam jangka panjang, kata Jamiluddin, perpecahan tersebut tentu dapat berdampak ke eksternal. Konflik yang tidak mereda di internal dapat meluas dan berpengaruh pada stabilitas politik nasional.
"Hal itu wajar karena NU ormas terbesar di Indonesia. Gesekan di internal NU akan dengan mudah merembet ke eksternal," jelasnya.
Ia menambahkan, peluang perpecahan itu berimbas ke eksternal organisasi semakin terbuka karena banyak orang-orang NU yang berpengaruh di eksternal.
"Bila mereka membawa konflik tersebut ke eskternal, maka konflik itu akan semakin meluas. Disinilah stabilitas politik nasional dapat terganggu," tuturnya.
Oleh karena itu, lanjut Jamuluddin, semua pihak seyogyanya dapat menahan diri. Setidaknya internal PBNU semuanya kembali kepada mekanisme yang berlaku dalam menyelesaikan konflik.
Dengan cara itu, jelasnya, diharapkan konflik tidak meluas hingga ke akar rumput. Konflik dapat diselesaikan di level elite NU. Sehingga, konflik tidak meluas ke akar rumput dan eksternal.
"Jadi, semuanya sebaiknya dikembalikan ke mekanisme penyelesaian konflik di internal NU. Hanya dengan cara itu, semua pihak dapat menerima penyelesaian konflik di PBNU," paparnya.
Baca juga: Kepemimpinan PBNU Beralih dari Gus Yahya ke KH Miftachul Ahyar, Rais Aam: Muktamar Akan Digelar
Seperti diketahui, isu pemakzulan Gus Yahya tengah menjadi perbincangam publik beberapa waktu belakangan.
Pengurus Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi memberhentikan KH Yahya Stquf atau Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum.
Pemberhentian tersebut disampaikan melalui Surat Edaran Nomor: 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 tentang tindak lanjut Keputusan Rapat Harian Syuriah PBNU.
Baca tanpa iklan