Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Basarnas Ungkap Tantangan Operasi SAR Banjir Sumatera, Material Lumpur hingga Akses Jalur Terputus

Basarnas ungkap kendala proses penanganan korban banjir, Selain faktor lapangan, akses jalur yang terputus juga menjadi kendala besar. 

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Basarnas Ungkap Tantangan Operasi SAR Banjir Sumatera, Material Lumpur hingga Akses Jalur Terputus
BNPB/
BANJIR DI SUMATRA - Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan sejumlah tantangan besar yang dihadapi tim SAR dalam operasi pencarian dan pertolongan korban bencana banjir yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Foto dampak kerusakan materil yang terjadi, akibat banjir bandang di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (30/11/2025). TRIBUNNEWS/HO/BNPB 

Ringkasan Berita:
  • Kepala Basarnas mengungkapkan sejumlah tantangan tim SAR dalam operasi pencarian korban bencana banjir yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
  • Banjir yang disertai material lumpur menuntut pengerahan personel SAR dalam jumlah lebih besar dari biasanya.
  • Terbatasnya rute darat membuat distribusi logistik dan kebutuhan operasi menjadi terhambat.
 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan sejumlah tantangan besar yang dihadapi tim SAR dalam operasi pencarian dan pertolongan korban bencana banjir yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Syafii menjelaskan, setiap jenis bencana memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.

Baca juga: Pemprov Jabar, Jateng, dan Jatim Kompak Kirim Bantuan ke Masyarakat Terdampak Banjir di Sumatera

Namun bencana banjir yang disertai material lumpur menuntut pengerahan personel SAR dalam jumlah lebih besar dari biasanya.

"Pada wilayah-wilayah yang terisolasi, personel SAR harus berjalan dari satu titik ke titik lain menyusuri area yang tidak bisa diprediksi. Mereka bekerja tanpa jeda untuk berganti shift atau istirahat makan," kata Syafii di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (1/12/2025).

 

 

Rekomendasi Untuk Anda

"Kondisi ini berbeda dengan penanganan bencana reruntuhan gedung, seperti insiden sebelumnya di Al Khoziny, di mana pola kerja bergiliran masih memungkinkan dilakukan," imbuhnya.

Selain faktor lapangan, akses jalur yang terputus juga menjadi kendala besar. 

Menurut Syafii terbatasnya rute darat membuat distribusi logistik dan kebutuhan operasi menjadi terhambat. 

"Akhirnya, ada ketergantungan pada dukungan sarana udara. Ini membuat operasi memakan waktu dan biaya yang lebih besar," ucap Syafii.

Untuk memperkuat operasi di titik-titik terdampak, Syafii mengatakan Basarnas telah mengerahkan tambahan kekuatan dari berbagai kantor SAR yang tidak terdampak bencana. 

"Mulai dari Tanjung Pinang, Pontianak, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, hingga Semarang, kita perkuat untuk membantu wilayah yang terdampak," tandasnya.

447 Korban Meninggal

Hingga Senin (1/12/2025), Basarnas telah mengevakuasi 447 korban banjir di Sumatra dalam kondisi meninggal dunia.

Sementara 399 orang masih dilaporkan hilang dan terus dalam proses pencarian.

"Dari jumlah yang terdampak, kami telah mengevakuasi 447 jiwa dalam kondisi meninggal dan yang terlaporkan masih dalam pencarian 399 jiwa," ucapnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas