Badan Otonom NU Minta Elite PBNU Segera Redakan Ketegangan Internal
Presiden DPP Sarbumusi, Irham Ali Saifuddin, menilai situasi yang memanas di kalangan elite PBNU harus segera dihentikan.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Editor:
Wahyu Aji
Para pimpinan turut menginstruksikan jajaran di daerah untuk tetap fokus menjalankan program kerja dan memperkuat khidmah kepada masyarakat, sambil menjaga koordinasi dengan struktur pusat masing-masing.
Pada bagian penutup, mereka mengajak warga NU—termasuk para kiai, nyai, mursyid, dan pimpinan pesantren—untuk memperbanyak doa, dzikir, dan istighotsah. Langkah spiritual ini dinilai penting agar penyelesaian persoalan dilakukan dengan kejernihan hati dan tetap menjaga martabat organisasi.
Baca juga: Di Tengah Isu Pemakzulan, Gus Yahya Ungkap Jajaran PBNU Kerap Terima Ancaman
“Semoga Allah SWT membimbing langkah kita sehingga setiap ikhtiar kembali pada kemaslahatan dan keutuhan jam’iyyah,” demikian pernyataan mereka.
Polemik di PBNU
Perseteruan di PBNU mencuat sejak rapat Syuriyah PBNU pada 20 November 2025 dan belum menemukan titik temu hingga akhir November.
Latar Belakang Polemik
- Rapat Syuriyah 20 November 2025: Syuriyah PBNU mengeluarkan keputusan yang dianggap memberhentikan Gus Yahya sebagai Ketua Umum.
- Dualisme dasar hukum: Kubu Rais Aam berpegang pada Peraturan Perkumpulan, sementara Gus Yahya menegaskan posisinya sah berdasarkan AD/ART PBNU.
- Konferensi alim ulama: Pertemuan di kantor PBNU Jakarta pada 23 November 2025
- memperlihatkan perbedaan tajam antara dua kubu.
Poin-Poin Perselisihan
- Legitimasi kepemimpinan: Apakah keputusan Syuriyah bisa langsung memberhentikan Ketua Umum, atau harus melalui mekanisme Muktamar.
- Interpretasi AD/ART: Gus Yahya menilai AD/ART memberi kewenangan penuh pada Ketua Umum, sementara Syuriyah menekankan peran Rais Aam sebagai pengawas tertinggi.
- Soliditas organisasi: Konflik ini menimbulkan kegelisahan di PWNU daerah yang khawatir akan perpecahan.
Dampak Polemik
- Kebingungan di akar rumput: Warga NU di daerah bingung siapa yang sah sebagai pemimpin.
- Potensi perpecahan: Jika tidak segera diselesaikan, konflik bisa memunculkan kubu-kubu baru di internal NU.
- Sorotan publik: Sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, polemik ini menjadi perhatian nasional dan bisa memengaruhi dinamika politik.
Baca tanpa iklan